Masa Belajar MAN Majene Dikeluhkan Ortu Siswa

On Selasa, November 21, 2017

MASALEMBO.COM

M. Djais (Foto: Taufik/masalembo.com)
MASALEMBO.COM- Masa belajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Majene, yang mencapai sepuluh jam per-harinya dikeluhkan orangtua siswa. Hal itu dinilai berat lantaran siswa harus belajar dalam waktu yang cukup lama. 

Salah seorang wali siswa, Samsuddin, khawatir masa belajar tersebut akan mengganggu kondisi psikologis anak jika terlalu dipaksakan. 

"Masa biasa anak-anak pulang pukul 17.00 Wita dalam kondisi lemas. Mungkin mereka kecapean belajar," katanya. 

Menurutnya, hal demikian tidaklah masalah jika jam belajar di MAN Majene telah menerapkan program "full day school" yang notabene mempertimbangkan kondisi psikologis anak. 

"Kan kalau full day school usai jam belajar, mereka hanya mengikuti kegiatan selanjutnya yakni ekstrakurikuler dan semacamnya," paparnya.

Dia khawatir jika jam belajar itu diterapkan demi mengakomodir jam mengajar para guru untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.

Menanggapi hal itu, Kepala Madrasah MAN Majene M. Djais mengungkapkan, jam belajar sekolah madrasah dengan sekolah tingkat SMU memang berbeda. Menurutnya, itu karena mata pelajaran di madrasah lebih banyak.

"Seperti Aqidah ahlak, fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam dan lainnya. Itulah kenapa jam belajar kami ada yang sampai sepuluh jam dalam satu harinya," sebutnya.

M Djais mengatakan, belum diterapkannya program "full day school" di sekolahnya karena masih menunggu instruksi dari Kanwil Kemenag Provinsi.

Mengenai kekhawatiran timbulnya tekanan mental bagi siswa atas masa belajar yang cukup lama, ia menuturkan bahwa tenaga pendidik di MAN Majene memiliki cara tersendiri dalam mengantisipasi kejenuhan.

"Kami sering menerapkan tanya jawab supaya tidak monoton. Itu salah satu metode mengurangi kejenuhan. Dan saya juga ikut mengambil jam-jam terakhir di sejumlah kelas," ungkapnya. 

Ia menuturkan, dalam memberikan pemahaman kepada orangtua atau wali siswa tentang masa belajar di MAN Majene, pihak sekolah cukup sering menyosialisasikannya melalui pertemuan dan surat pemberitahuan.

"Kami sebenarnya sudah sering menyosialisasikannya. Dan kalau seumpama ada wali siswa yang mengeluhkannya, bisa langsung menghubungi nomor telepon yang terpampang di depan sekolah atau langsung ke sekolah untuk membicarakannya," pungkasnya. (tfk/har)

comments