Menyoal Minat Generasi Muda untuk Menggeluti Profesi Bidang Pertanian

On Kamis, Maret 15, 2018

MASALEMBO.COM

Dr. Syamsul Rahman, S.TP, M.Si
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar)

PADA konteks Indonesia, fenomena menurun dan kurangnya mahasiswa, yang memilih program studi atau jurusan berbasis pertanian, tentu dirasakan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) apatalagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sehubungan dengan hal itu, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tidak adanya minat generasi muda bersedia menjadi petani. Menurut Survei BPS sekitar 75 persen petani di pulau Jawa telah berusia diatas 50 tahun, dan hanya 12 persen yang berusia dibawah 30 tahun. Hal ini berarti masa depan pertanian kita sudah “lampu merah”, dan bila tidak ada terobosan baru, upaya memberi makan penduduk sekitar 235 juta orang akan menjadi masalah besar ke depan. 

Kondisi seperti diatas mungkin berkaitan dengan kurungnya pemahaman dan kesadaran generasi muda untuk mengembangkan dan menghargai sektor pertanian dalam arti luas, sebagai suatu sektor vital bagi bangsa besar seperti Indonesia. Sektor pertanian dalam arti seluas-luasnya merupakan sektor andalan (basic sector) bagi suatu bangsa. Sebab kebutuhan akan bahan pangan, serat, obat-obatan dan energi, serta sebagian dari bahan baku industri dipasok oleh kegiatan sektor pertanian. Disamping itu, sektor ini merupakan sektor yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan berbagai tingkat kemahiran (skill levels). 

Pergeseran Paradigma

Indonesia saat ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat didunia, dituntut untuk menyediakan pangan, sandang, obat-obatan dan lapangan kerja bagi penduduknya. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan sektor pertanian, tidak hanya terbatas pada cara meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga cara memperluas keanekaragaman produk pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan (food security), memperkokoh keterkaitan pertanian dengan industri, dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta memperluas kesempatan kerja disektor pertanian sehingga dapat berdampak positif bagi kesejahteraan petani. 

Dalam kaitannya dengan memberi pemahaman kepada generasi muda untuk tertarik memasuki jenjang perguruan tinggi (PT) berbasis pertanian dan mempunyai keinginan untuk menekuni profesi di sektor pertanian, “pertanian sebagai ilmu”, harusnya dikembangkan atas dasar paradigma bahwa pertanian merupakan sistem sosio-kultural-teknis untuk menghasilkan dan memanfaatkan biomassa secara berkesinambungan, serta berkelanjutan dengan memanen energi surya melalui manipulasi agroekosistem. Dalam artian, sebagai suatu paradigma bahwa pertanian merupakan sistem sosio-kultural-teknis, maka ilmu pertanian atau pendidikan pertanian dilandasi konsep efisiensi, ekonomis, dan efektif sehingga merupakan teknik yang tertib prosedur, tata laksana, dan tata cara dalam berusahatani. 

Untuk itu, perlunya dilakukan perubahan paradigma dalam sistem pendidikan pertanian Indonesia dari konvensional seperti saat ini menjadi sistem pendidikan yang berkompetensi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi pengelolaan dan pembudidayaan alam tropika yang lestari dan kesejahteraan manusia, serta diselenggarakan dalam suatu sistem pendidikan yang berorientasi pada mutu. Terkait dengan hal tersebut, PT pertanian mengembang tugas untuk mengembangkan SDM Indonesia agar dapat memiliki dan mengembangkan iptek, serta mampu mengamalkannya bagi kesejahteraan manusia, sehingga dapat meningkatkan harkat bangsa Indonesia di mata masyarakat dunia serta sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berperadaban. 

Harus Memiliki Kompotensi

Untuk membangkitkan minat generasi muda, baik yang masuk ke PT berbasis pertanian, maupun dalam menekuni profesi di sektor pertanian dengan berbagai level, maka dalam menentukan kompetensi PT pertanian, paling tidak perlu memperhatikan tiga pertimbangan dasar (basic consideration), yaitu (a) kepentingan bangsa dan negara (b) visi akademik (academic vision), dan (c) kebutuhan pasar kerja yang sangat erat hubungannya dengan asupan (input) proses PT. Hubungan ketiga pertimbangan dasar tersebut, merupakan segitiga sama sisi karena masing-masing merupakan hal yang mempunyai derajat penting yang sama. 

Pertama, kepentingan bangsa dan negara. Sebagai negara yang mempunyai sumber daya alam (SDA) yang kaya dan jumlah penduduk yang banyak, Indonesia memiliki kepentingan yang besar untuk mengembangkan ketahanan nasional yang berbasis pada sumber daya yang dimiliki. Beberapa hal yang terkait dengan ketahanan nasional tersebut antara lain, penyediaan bahan pangan dan energi yang berbasis pada SDA, penyediaan lapangan kerja, dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan iptek untuk memahami karakteristik dan potensi SDA yang dipakai sebagai dasar untuk merakit atau menentukan teknologi bagi pengelolaan SDA, terutama yang berkaitan dengan produksi biomassa. Sehubungan dengan itu, peran lembaga pendidikan pertanian untuk mendidik calon-calon sarjana, yang dapat mengelola SDA untuk produksi biomassa yang bermutu secara lestari bagi pemenuhan kebutuhan bangsa dan negara. 

Kedua, visi akademik, PT pertanian harus mempunyai visi mengembangkan ilmu-ilmu pertanian Indonesia pada khususnya dan pertanian tropika pada umumnya. Untuk itu, diperlukan pengembangan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengenalan karakteristik dan potensi SDA yang dipakai sebagai dasar untuk menciptakan atau menentukan dan menerapkan teknologi dalam pengelolaan SDA, teknologi penanganan dan pengolahan hasil pertanian, sosial ekonomi, serta manajemen yang berfokus pada pertanian. Ketiga, kebutuhan pasar kerja. Faktor ini harus dipertimbangkan karena kebutuhan pasar akan menentukan jumlah dan mutu asupan (input) proses pendidikan dan arah kegiatan akademik. Tanpa mempertimbangkan aspek pasar, kompetensi PT akan lemah. Oleh karena itu, arah PT pertanian di Indonesia perlu mempertimbangkan kondisi masa kini (present condition) dari setiap lembaga PT pertanian yang ada. 

Demikian juga sumber daya daerah tempat lembaga PT pertanian tersebut berada, perlu turut dipertimbangkan agar keberadaannya bermanfaat bagi daerah yang bersangkutan. Dengan demikian setiap lembaga PT pertanian mempunyai warna kekhususan yang mendukung pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pengembangan nasional. Dalam rangka memenuhi kompetensi seperti disebutkan diatas, tantangan PT pertanian, yaitu harus mampu menghasilkan lulusan minimal mempunyai tiga kemampuan utama yaitu, (1) kompetensi akademik, yaitu kemampuan metodologis keilmuwan dalam rangka penguasaan dan pengembangan ipteks, (2) kompetensi profesional, yaitu wawasan, prilaku, dan kemampuan untuk menerapkan ipteks dalam pembangunan secara profesional, (3) potensi kecendekiaan, yaitu kepekaan para lulusan PT pertanian terhadap masalah yang dihadapi dilingkungan masyarakatnya, serta wawasan, sikap, dan prilaku yang memihak kepada mereka yang masih lemah. 

Disamping itu, perlunya para peserta didik diberi ilmu-ilmu penunjang proses pembelajaran mereka, karena lulusan PT pertanian masa kini dan yang akan datang harus mempunyai wawasan pertanian modern yang berorientasi kepada globalisasi, penyeragaman standar-standar, persaingan bebas, kesadaran lingkungan dan kesehatan (health consciousness). Beberapa ilmu penunjang yang dibutuhkan diantaranya; (a) penjaminan mutu (quality assurance) hasil, yang mempelajari konsep-konsep pengendalian mutu, terutama komoditas-komoditas yang menjadi bahan baku makanan, Good Manufacturing Practices (GMP), standar-standar internasional seperti ISO dan sebagainya, (b) dampak lingkungan, diantaranya mempelajari kesadaran lingkungan dan pengertian konsep sustainable development, analisa dampak lingkungan (ANDAL) pengadaan berbagai jenis teknologi effluent control dalam berbagai kegiatan agribisnis, dan (c) perdagangan komoditas pertanian beserta dasar hukumnya,yaitu mempelajari perdagangan internasional, peraturan/hukum komoditas pertanian distribusi dan pemasaran produk pertanian didalam negeri, future trading, pembiayaan perdagangan (L/C) CDA dan lain-lain. 

Untuk itu, upaya menghasilkan lulusan  dengan kompetensi seperti disebutkan diatas, memerlukan reorientasi dan pembaharuan dalam sistem pendidikan, khususnya PT pertanian supaya mampu membawa sektor pertanian menjadi sektor unggulan (leading sector), dan menjadikan sektor pertanian tulang punggung dalam perekonomian. Karena banyak peluang yang bisa kita tangkap dari bidang pertanian. Kalau kita serius dan mau menekuni, makanya inilah potensi besar yang bisa dipakai untuk membangun negeri ini. 

Persoalannya, sadarkah bangsa ini akan potensi yang dimilikinya? Maukah bangsa ini mengakui bahwa dari pertanian bangsa ini akan meraih kemajuan? Salah satu solusinya adalah menganggap sektor pertanian sebagai sebuah bisnis, agar mampu menarik generasi muda menekuni ilmu-ilmu pertanian dan terjun ke usaha pertanian. Dengan menganggap pertanian sebagai bisnis, akan memacu peningkatan produktivitas, daya saing, dan yang pasti dapat meningkatkan pendapatan petani. Dengan menurunnya minat generasi muda menekuni pertanian, tentunya menimbulkan keprihatinan sekaligus kekhawatiran bahwa sektor pertanian bisa menjadi “almarhum” di negara yang menurut nenek moyang kita adalah negara yang “gemah ripah loh jinawi” (melimpah ruah dan kaya), justru karena sektor pertaniannya pada masa dahulu. Untuk itu, perlu keseriusan pemerintah dalam membenahi sektor ini. Adanya sinergi total antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha untuk membangunkan sektor ini sangatlah diperlukan. Tidak mungkin pertanian dibangun tanpa keberpihakan. (*)

comments