Peran Teknologi Pertanian dalam Membangun Pertanian

On Rabu, Maret 21, 2018

MASALEMBO.COM

Dr. Syamsul Rahman, S.TP, M.Si
(Pemerhati Pertanian dan Pangan, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar) Foto : Ist
OPINI, MASALEMBO.COM — Pertanian telah membuktikan dirinya sebagai salah satu sektor pembangunan yang berperan sangat menonjol menghantar Indonesia menjalani dan melewati masa krisis. Hal ini perlu disosialisasikan dan dipelihara dengan baik, terutama untuk menimbulkan kesadaran nasional bahwa sektor pertanian adalah sektor strategis unggulan dalam pembangunan nasional.

Pemanfaatan dan penguasaan teknologi pertanian berkaitan langsung dengan peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai tambah. Teknologi dan kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu utama daya saing nasional suatu negara.

Lantas seperti apa teknologi yang tersedia dan dibutuhkan sektor pertanian Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah?. Faktor utama menentukan keberhasilan pembangunan di bidang pertanian adalah keterkaitan mata rantai kegiatan dari hulu sampai hilir dengan penerapan teknologi. Tanpa keterkaitan erat, setiap kegiatan akan berjalan sendiri-sendiri dan terkotak-kotak yang pada gilirannya akan menghambat kegiatan pembangunan pertanian secara keseluruhan.

Peran Teknologi Pertanian

Peranan teknologi pertanian cukup menonjol untuk bisa memberikan driving force bagi pembangunan pertanian, khususnya untuk menahan ancaman-ancaman sekaligus memanfaatkan peluang-peluang yang ditimbulkan oleh fenomena globalisasi.

Peranan teknologi pertanian ini antara lain adalah dalam usaha peningkatan dan penjaminan mutu, baik mutu produk, kemasan, dan penampilan produk secara keseluruhan. Disamping itu, pemilihan dan penggunaan teknologi secara tepat akan berpeluang untuk menekan biaya produksi, menekan harga jual, sehingga akan berpengaruh terhadap meningkatnya daya saing. Karena itu, teknologi pertanian yang harus dikembangkan sangat beragam, dari hulu sampai hilir. 

Di sektor hulu, dibutuhkan bioteknologi untuk mengembangkan benih, dan teknologi budidaya yang tepat sasaran, yaitu teknologi yang sesuai (appropriate) untuk segmen tertentu, apakah petani dengan skala kecil, menengah atau besar. Di sektor hilir, teknologi penanganan bahan, pengolahan dan pengemasan merupakan teknologi yang dibutuhkan.

Pengembangan teknologi harus berorientasi pada sasaran, sesuai dengan kebutuhan (client oriented demand). Tak jadi soal apakah teknologi sederhana bahkan tradisional, menengah atau modern, yang penting dibutuhkan masyarakat. Salah satu persepsi yang salah selama ini adalah pangan diidentikkan dengan beras. Sehingga konsumsi beras digenjot dan segala daya upaya difokuskan pada peningkatan produksi beras. 

Sementara Indonesia sebenarnya memiliki daerah-daerah yang kaya potensi makanan pokok (staple food) lain, misalnya ubi jalar di Papua, sagu di Maluku, jagung di Madura dan sebagainya. Padahal pemerintah pernah mengeluarkan Inpres tentang penganekaragaman pangan, namun sosialisasi dan implementasinya tidak jalan.

Kasus lain yang berkaitan dengan pentingnya pemanfaatan dan penguasaan teknologi pertanian adalah kenaikan bobot rata-rata sapi pedaging Indonesia hanya sebesar 0,5 kg/hari/ekor, dengan input teknologi yang tepat berpotensi untuk ditingkatkan mendekati produktivitas ternak sapi di Australia sebesar 1,55 kg/hari/ekor. 

Demikian pula dengan produktivitas usahatani padi yang di Indonesia baru sebesar 4,5 ton/ha. Dapat dilipatgandakan menyamai produktivitas di Vietnam yaitu sebesar 8 ton/ha dengan mengaplikasikan teknologi yang tepat.

Urgensi Inovasi Teknologi

Dengan sumberdaya yang sangat terbatas dan dalam tatanan pasar yang sangat kompetitif, sumber pertumbuhan dan pembangunan pertanian (agribisnis) yang dapat diandalkan adalah inovasi teknologi. Inovasi teknologi sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas, sehingga dapat memacu tidak hanya pertumbuhan produksi, tetapi juga sekaligus meningkatkan daya saing. 

Inovasi teknologi juga diperlukan dalam pengembangan produk (product development) dalam rangka peningkatan nilai tambah, diversifikasi produk dan transformasi produk sesuai dengan preferensi konsumen. Dengan demikian, inovasi teknologi mempunyai peran yang sangat vital untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang dinamis, efisien, dan berdaya saing tinggi.

Suryana (2007) menjelaskan ada lima syarat mutlak yang harus dipenuhi agar pembangunan pertanian dapat tumbuh-berkembang secara progresif. Pertama, adanya pasar bagi produk-produk pertanian (agribisnis). Kedua, teknologi yang senantiasa berubah. Ketiga, tersedianya sarana dan peralatan produksi secara lokal. Keempat, adanya perangsang produksi bagi produsen, dan Kelima, adanya fasilitas transportasi. Terkait dengan teknologi yang senantiasa berubah berarti adalah inovasi teknologi (inovasi re-inovasi teknologi), agar sektor pertanian dapat berkembang. Tanpa adanya inovasi teknologi secara terus menerus, pembangunan pertanian akan terhambat, walaupun keempat syarat mutlak lainnya telah terpenuhi.

Tak kalah pentingnya, teknologi yang akan dikembangkan sebaiknya yang telah berakar di masyarakat. Contohnya Jepang, negara itu sangat maju di bidang bioteknologi, karena teknologi fermentasi secara tradisional telah berkembang sejak lama. Banyak industri berbasis produk biotek, dulunya merupakan industri fermentasi kecap. Teknologi serupa sebenarnya juga berakar di Indonesia dan berpotensi untuk dikembangkan. Misalnya, industri komponen pembangkit citarasa dapat dikembangkan dari industri kecap, tauco, atau tape. (***) 

comments