Di Balik Keindahan Alam, Nosu Juga Penghasil Terong Belanda

On Selasa, Agustus 28, 2018

MASALEMBO.COM

Soleman Sura, petani terong Belanda di Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulbar (Frendy Cristian/masalembo.com)

MAMASA, MASALEMBO.COM - Kecamatan Nosu adalah salah satu kecamatan tertinggi di Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis daerah ini berada di ketinggian sekitar 2.573 Mdpl. 

Namun dibalik ketinggian Kecamatan Nosu menawarkan sejuta pesona keindahan alam yang menakjubkan. Perbukitan yang menjulang tinggi ke angkasa mengeliling perkampungan tradisional, serta hamparan sawah tampak begitu memikat mata. Selain itu udara sejuk dengan dedaunan pohon  rindang serta hamparan awan di waktu pagi membuat kita merasakan sensasi bagaikan negeri di atas awan.

Yang lebih menarik, masyarakat di daerah ini begitu ramah meyambut setiap tetamu yang datang. Tak sungkan mereka silih berganti menawarkan tamu untuk menginap di rumah mereka saat kita berkunjung.
Adapun jarak tempu ke Nosu dari kota kabupaten Mamasa, kita bisa mengendai roda dua maupun roda empat. Sekitar 4 sampai 6 jam sampai ke sana. Perjalanan akan melalui poros Polewali-Mamasa, kemudian Kecamatan Sumarorong lalu belok kiri. Jalan menuju Nosu masih dipenuhi bebatuan dengan kondisi yang cukup terjal sehingga harus serba hati-hati jika melewat karena sisi kanan juga terdapat jurang yang cukup curam.

Tapi, dalam perjalan pastinya kita akan disunggukan pemandangan alam indah yang tersaji dari hutan asli Mamasa. Sesekali pula harus menerawang kabut yang kerap mengintari perjalan.


Keindahan alam di Nosu. Tampak perkampungan tradisional dikelilingi pegunungan dan awan. Daerah ini relatif masih sulit akses transportasi. (Frendy Cristian/masalembo.com)

Nosu Penghasil Terong Belanda

Mayoritas penduduk Nosu berprofesi petani. Mereka lebih banyak menanam terong Belanda atau yang lebih keren dikenal buah Tamarillo.
Bertani terong sudah menjadi aktifitas utama masyarakat setempat dalam meningkatkan perekonomian mereka. Kebun terong  milik warga kebanyakan berada di lereng pengunugan jauh dari pemukiman. Lereng pengunungan sengaja dipilih sebagai lahan perkebunan lantaran kondisi tanah yang cukup subur sangat cocok bagi tanaman jangka pendek seperti terong.

Soleman Sura, salah satu petani terong sejak 5 tahun lalu bercerita, dalam satu kali panen kebun miliknya 3 hektar mampu menghasilkan 1 ton terong Belanda. Soleman mengaku telah mengisi lahannya 3.000 pohon terong per satu kali musim tanam.
Hasil panen terong milik Soleman kemudian dijual seharga Rp 4.000 per kilogram hingga keuntungan yang ia dapat bisa mencapai 4-6 juta rupiah dalam sekali panen.

“Bertani terong memang menjanjikan, namun kesulitan soal pemasaran, akibat kondisi jalan dari kebun menuju ke pasar masih rusak dan jauh,” cerita Soleman Sura.

Hasil panen mereka terpaksa hanya dipasarkan kepada sejumlah konsumen melalui pengiriman angkutan umum. Pemesanan tak hanya datang dari Kabupaten Mamasa namun juga dari luar Mamasa seperti Toraja, Makassar dan Mamuju.

Soleman berharap jalan yang rusak parah mulai dari perkampungan menuju kebun yang meyulitkan bagi petani mengakut hasil panennya dapat segera diperbaiki. Mereka berharap agar warga tani di Nosu dapat mengakses pasar dengan mudah. (frd/har)

comments