Kisah Mahyuddin, Warga Tutar Selamat dari Maut Longsor Batu

On Kamis, November 29, 2018

MASALEMBO.COM

Pencarian korban longsor batu di Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Polman (Foto: Andi Sura Muhlis/facebook)

POLEWALI, MASALEMBO.COM - Salah satu korban selamat itu bernama Mahyuddin. Ia ikut dalam rombongan pekebun pada pristiwa maut Selasa, 27 Nopember 2018 pukul 13.30 WITA.

Kepada awak media ini, Mahyuddin menceritakan, awalnya mereka (delapan orang) mecari buah kemiri di kebun mereka secara berkelompok. Usai mencari buah kemiri, rombongan ini pulang melalui jalan setapak. Namun naas, saat melintas di tebing batu tersebut, longsor mendadak jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter. 

"Pertama kecil longsornya pak, lalu langsung jatuh itu batu paling besar," ujar Mahyuddin, Kamis (29/11)

Para pencari buah kemiri itu sontak berlari, bahkan melompat ke dalam sungai. Sayang dua perempuan di tengah rombongan tak dapat menyelamatkan diri. Mereka tertimpah batu hingga tewas di tempat kejadian.


"Barusan lagi kami lewat situ, untuk jalan pintas, biar cepat sampai," kisah Mahyuddin sedih.

Usai peristiwa maut itu, upaya pencarian terhadap dua korban longsor tebing batu di Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini terus dilakukan. Tim gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan dan warga sekitar kemudian menemukan satu korban dalam kondisi tak bernyawa.

Korban yang dikenali bernama Ida (27). Ia ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Organ tubuhnya terpisah dengan anggota tubuh lainnya akibat tertimpa batu besar.

Kapolsek Tutar, IPDA Muhammadiyah mengatakan, jasad korban Ida telah dimakamkan Rabu (28/11) kemarin di tempat pemakaman umum desa setempat. Sementara satu korban lainnya belum ditemukan hingga kini. Korban yang belum ditemukan adalah Darmi, merupakan ibu kandung dari Ida, korban yang lebih dulu ditemukan.

"Keluarga sudah ikhlas dan menguburkan korban. Kami masih menunggu pencarian korban lainnya," jelas Muhammadiyah.

Kapolsek menjelaskan, hal yang menjadi kendala pencarian adalah jalur dan medan yang sulit karena tertimbun batuan besar.

"Kami juga terkendala alat berat karena kalau tenaga manusia itu tidak mungkin membongkar dan memindahkan bongkahan batu yang sangat besar," jelasnya.

Selain terkendala alat berat, cuaca juga menjadi pertimbangan saat proses evakuasi. Untuk sementara, proses evakuasi di hentikan sementara hingga menunggu cuaca kembali normal dan kondusif.

"Ini bahaya, karena kemarin waktu evakuasi masih terjadi longsor kecil dan bisa menimpa warga dan aparat, apalagi selalu hujan," imbuh Kapolsek.

Kepada Desa Taramanu Tua, Ahmad menuturkan, tebing batu tersebut merupakan jalan setapak yang memang biasa dilakui warga setempat saat menuju kebun. Ia menduga, penyebab longsor adalah  pengaruh dari gempa Mamasa yang juga dirasakan hingga ke wilayah tersebut.

"Mungkin retakan ini pengaruh dari gempa Mamasa. Dan baru sempat longsor," tuturnya. (ant/har)

comments