Dari Mamuju Penolakan Dorce Berlanjut ke Polman

On Minggu, Desember 30, 2018

MASALEMBO.COM

Dorce Gamalama (inet)

POLEWALI, MASALEMBO.COM - Kedatangan komedian Dorce Gamalama di Provinsi Sulawesi Barat terus menuai polemik. Mulanya, wanita transgender yang berprofesi sebagai penghibur ini ditolak oleh sejumlah elemen di Kabupaten Mamuju. Beberapa lembaga kemahasiswaan dan organisasi masyarakat mengatakan, kehadiran Dorce dan sejumlah artis ibukota di Sulbar kurang tepat dengan kondisi bangsa yang tengah dirundung banyak bencana. 

Salah satu aktivis dakwah di Mamuju, Hajrul Malik mengatakan, akhir-akhir ini banyak bencana yang dirasakan oleh rakyat Indonesia, tak terkecuali warga Provinsi Sulawesi Barat. Maka sejatinya kata Hajrul, pemangku pemerintah berempati kepada rakyatnya, bukan berpesta melepas pergantian tahun. 

"Saya beranggapan bahwa Pemprov tidak peka dalam situasi saat ini. Masih ada hiburan yang menurut saya dengan cara kekinian," ujar Hajrul, Sabtu (29/12).

Menurut Hajrul, anggaran yang dikeluarkan Pemprov Sulbar untuk mendatangkan sederatan artis ibukota terbilang cukup. Nilainya mencapai Rp80 juta. "Mending dana itu digunakan untuk tausiyah, tablig akbar atau disumbangkan kepada saudara kita yang ada di Barru yang terkena musibah banjir," pungkas Ketua Dewan Pendidikan Mamuju ini.

Bukan hanya Hajrul, Ketua Pimpinan Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mamuju, Rusdi Nurhadi juga menolak kedatangan Dorce Cs ke provinsi ke-33 RI ini. Rusdi melayangkan kritikan terhadap Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui keterangan tertulisnya yang dilansir sejumlah situs berita di Sulbar.

"Akhir-akhir ini banyak resah dengan berbagai fenomena, mulai gempa bumi di Mamasa, isu tsunami di Mamuju, warga mengungsi di sejumlah tempat, pemukiman warga yang rusak di pulau Balabalakang yang diterjang ombak dan sejumlah fenomena lainnya. Atas sejumlah fenomena bencana yang terjadi disetiap daerah pemerintah yang dikomandoi oleh Ali Baal Masdar Enny Anggraeni tidak peka, dan terkesan tidak peduli akan situasi sosial warganya," kata Rusdi seperti dikutip pojokcebes.com

”Tahun 2019 kita butuh optimisme pembangunan segala sektor untuk lebih baik, kalau memulainya kalian (Pemprov Sulbar) telah memulai awal yang buruk maka tunggu kehancuran akan datang," ucapnya.

Penolakan di Polman

Usai mendapat kritikan di Mamuju, panitia penyelenggara acara malam pergantian tahun yang diisi Dorce Gamalama dibatalkan. 

Ketua penyelenggara kegiatan Muhammad Natsir melalui konfrensi pers, Sabtu (29/12) sore memastikan Dorce Cs batal manggung di lapangan kantor gubernur Sulbar di malam tahun baru. Kompensasinya ia bakal beralih ke Kabupaten Polewali Mandar.

“Kita alihkan ke Polman, sekaligus hari ulang tahun Polman,” ucap Natsir, Sabtu.

Namun setali tiga uang, di Polman Dorce lagi-lagi ditolak. Bahkan, di Bumi Tiapalayo ini, rencana kedatangan Dorce Cs berujung demo sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Masyakarat Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Dengan membawa berbagai spanduk dan poster, puluhan massa ini menggelar aksi di dua titik, Minggu (30/12) pagi. Titik pertama di jalan Haji Andi Depu lampu merah lapangan Pancasilan dan kedua di stadion H.S. Mengga, tempat Dorce akan menghibur warga pada malam pergantian tahun baru 2019.

Secara bergantian massa melakukan orasi di atas mobil. Dalam aksinya, massa menyatakan empat poin. Diantaranya, menolak segala bentuk kegiatan hiburan dalam malam pergantian tahun 2019, mendesak pemerintah menolak Dorce dan kawan-kawan di Polman, serta menyuarakan malam tahun baru diisi dengan kegiatan religi. Tuntutan terakhir, Pemprov Sulbar meminta maaf secara terbuka karena dengan sengaja menganggap Polman sebagai alternatif buangan setelah Dorce ditolak di Mamuju.

Koordinator aksi, Herman Kadir mengatakan, seharusnya malam pergantian tahun diwarnai dengan kegiatan religi, karena melihat banyaknya bencana alam yang melanda negeri.

"Sebagai warga Sulbar, kami dari aliansi turut mendorong pemerintah agar bisa menyeragamkan kegiatan pada malam pergantian tahun baru nanti," tegas Hervol, salaan Herman Kadir.

Tetapi apa yang diharapkan, kata dia, justru tidak sejalan dengan yang dilakukan pemerintah. “Ini justru yang menyayat hati masyarakat Polman karena Polman akan dijadikan sebagai kabupaten alternatif setelah Dorce Gamalama ditolak oleh masyarakat kabupaten Mamuju," kata Herman.

Massa bahkan mengancam, jika tuntutan mereka tidak ditanggapi maka mereka akan memboikot acara panggung hiburan tersebut.

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi Sulbar telah mendatangkan Dorce Gamalama, juga artis Aida Zaskia serta beberapa penyanyi lainnya untuk acara malam pergantian tahun. Panitia menyebut, Pemprov Sulbar telah menyewa artis-artis ibukota tersebut Rp80 juta dari dana yang dikumpulkan spontan. (awl/ant/har)

comments