Pengujuk Rasa dari Gema PUS Sebut Sejumlah Proyek Dikerja Asal-asalan

On Rabu, Januari 30, 2019

MASALEMBO.COM

Pengunjuk rasa di halaman kantor bupati Mamasa (Frendy Cristian/masalembo.com)

MAMASA, MASALEMBO.COM - Puluhan pemuda mendatangi kantor bupati Mamasa, Selasa (29/1/2019) pagi. Mereka melakukan demontrasi atas pekerjaan proyek jalan dan jembatan di wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS) Kabupaten Mamasa.

Massa aksi menamakan diri Aliansi Generasi Muda (Gema) PUS ini menyebut, sejumlah proyek di wilayah mereka dikerjakan asal-asalan. Aksi unjuk rasa mereka digelar juga di depan gedung DPRD Kabupaten Mamasa. 

Salah satu yang menjadi sorotan pengunjuk rasa, yakni pekerjaan jembatan di Desa Ulumambi Barat, Kecamatan Bambang. Proyek ini disebut menelan anggaran daerah hingga Rp1,48 miliar lebih.

Pengunjuk rasa mengatakan, anggaran proyek jembatan Ulumambi bersumber dari Dana Alokasi Umum DAU) 2018 yang dikerjakan CV. Pidara Lino dengan nomor kontrak 050/19/S.Prj-KPA/DAU/BM-PUPR/M/V/2018. Pekerjaan ini dinilai pengunjuk rasa dikerja asal-asalan. 

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi meyebut jembatan yang dibangun dengan dana DAU itu merupakan satu-satunya jalan untuk akses Desa Ulumambi Barat dan pusat Kecamatan Mambi. Berdasarkan tanggal kontrak, pekerjaan jembatan ini dimulai 9 Mei 2018 dengan waktu pelaksanaan 180 hari kalender. Pekerjaan pembangunan jembatan ini berakhir pada bulan Desember lalu namun hingga kini belum dapat dilalui warga.

Koordinator aksi aliansi Gema PUS Doni Kumala Putra mengatakan, hasil pantauannya, sudah ada bagian jembatan mengalami kerusakan. Saat rusak kata Doni, eaktu pengerjaan jembatan itu sudah selesai namun belum rampung.

"Saat ini belum bisa diakses karena ada kerusakan. Kami menilai, kerusakan terjadi karena kelalaian manusia. Jadi bukan karena bencana," ungkap Doni.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Mamasa Asri Thomas terkait itu mengatakan, jembatan yang menjadi sorotan sudah dikerjakan sesuai dengan item anggaran biaya yang sudah didesain. Namun, pada ujung jembatan yang dinyatakan mengalami kerusakan tidak masuk dalam perencanaan kegiatan.

“Yang rusak itu adalah item pekerjaan tambahan. Sayarekomendasikan untuk tidak dibuat lagi karena yang dilakukan rawat beton di atas tanah timbunan. Hal itu tidak direkomendasikan karena memang tidak ada dalam item rencana anggaran biaya,” katanya.

Lanjut Asri Thomas, setalah mendapat informasi terkait adanya kerusakan atas adanya penambahan pekerjaan, ia memerintakan pihak rekanan untuk segera menimbun dengan sirtu atau timbunan batu pasir. 

Menurut Thomas, untuk saat ini pekerjaan jembatan masih dalam tahap pemeliharaan hingga 1 Mei mendatang.

Selain jembatan, persoalan lain yang menjadi tuntutan pengunjuk rasa adalah perintisan jalan di wilayah PUS. Massa aksi membeberkan, pekerjaan ini tidak memperhatikan dampak kerusakan alam. Selain itu, pendemo juga menuntut upaya peningkatan perekonomian, pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Ketua Komisi I DPRD Mamasa, Eli Sambominanga yang menerima aspirasi di gedung DPRD mengatakan, hasil audiens dengan Gema PUS, Bupati, DPRD dan sejumlah OPD, melahirkan beberapa rekomendasi sebagai tindaklanjut tuntutan yang disampaikan Gema PUS.

"Kita rekomendasikan agar jembatan yang sudah dibangun segera ditimbun, untuk dapat diakses. Hal lain adalah perintisan jalan dari Bambang ke Buntu Dama agar direview anggaran pembangunannya dari mana. Selain itu, kita merekomendasikan agar dinas terkait sekaitan pendidikan agar menerima tenaga pendidik untuk pemerataan guru di daerah terpencil," jelas Eli. (frd/har)

comments