Kisah Anak Perbatasan Sulsel-Sulbar, Bertaruh Nyawa Pergi ke Sekolah

On Kamis, Februari 21, 2019

MASALEMBO.COM

Anak-anak SD di Desa Benteng, Kecamatan  Lembang Pinrang menyebrang sungai menuju sekolah (Asrianto/masalembo.com)


POLEWALI, MASALEMBO.COM - Sejumlah murid SD di Desa Benteg Parembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, harus rela bertaruh nyawa demi bersekolah. Mereka nekat menyeberangi derasnya arus sungai menuju sekolah lantaran tidak adanya jembatan penyebrangan.

Setiap hari sekolah, murid SD ini berjalan kaki sejuah 3 kilometer dan  bertaruh nyawa menyeberangi sungai Amola. Meski keselamatan jadi taruhan, namun pelajar cilik ini tampak semangat dan antusias berangkat ke sekolah demi meraih cita-citanya.

Agar seragam sekolah seperti sepatu, pakaian, dan peralatan sekolah lainnya tak basah, mereka membukanya ketika akan menyeberang. Sejumlah siswa bahkan memilih bertelanjang dada sambil memegang seragam. Tak sedikit siswa punya pengalaman jatuh di tengah arus hinga seragam dan buku mereka basah kuyup sebelum tiba di sekolah.

Siswa ini merupakan warga dari kampung sebelah yakni dari Desa Benteng Parembang, Kecamatan Lembang yang bersekolah di SDN dan SMP Sabang, Desa Amola, Kecamatan Binuang, Polman.

Menurut salah satu murid mereka melewati sungai karena jalur ini merupakan satu-satunya alternatif dan jalan pintas terdekat menuju sekolah. 

"Sebenarnya ada jalan lain, tapi harus jauh memutar, jauh sekali," kata Nur Safika, salah satu murid.

Murid-murid ini berharap, segera ada jembatan di desa itu, agar mereka tidak perlu lagi basah saat menyeberangi sungai setiap hari.

Sungai Amola merupakan sungai yang membelah wilayah perbatasan antara kedua Provinsi yakni, Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Barat.

Camat Binuang, Budiaty Bestari mengatakan, anak-anak dari kmpung sebelah datang bersekolah ke wilayah mereka. Ia berharap ada kerjamasama antara kedua pemerintah kabupaten untuk mencari solusi dengan cara membangun jembatan.

"Semoga ada tindak lanjut dan bisa terealisasi, itu yang kami harapkan," harap Camat, Budiaty

Sementara, Kepala SD Pasang, Mursalim, mengatakan, bahwa sekitar 26 siswanya berasal dari kampung sebelah, yakni Kabupaten Pinrang. Mereka terpaksa bersekolah di desa Amola, karena jarak sekolah di kecamatannya sangat jauh.

"Ada sekolah di wilayah kecamatan mereka, tapi jaraknya sangat jauh dibanding kesekolah kami," tuturnya.

Ia mengaku, siswanya kadang juga bermalam dan tidak pulang jika banjir besar terjadi. "Mereka biasa menginap di rumah dinas guru yang masih berada di lingkungan sekolah," ungkap Mursalim.

Menurut Mursalim, warga setempat sudah pernah mengusulkan pembuatan jembatan, namun hingga kini belum ada realisasi.

"Semoga bisa terwujud dan terealisasi untuk membangun jembatan," harapnya. (ant/har)

comments