Kisah 2 Bocah Mamasa, Berjuang Selamatkan Ibu dari Maut Saat Longsor Hantam Rumah Mereka

On Rabu, Maret 13, 2019

MASALEMBO.COM

Saparin dan Saleh (Foto : Frendy Christian)  

MAMASA, MASALEMBO.COM - Kamis 6 Maret 2019 menjalang malam. Sekira pukul 17:00 Wita saat itu, suasana duka kembali menyelimuti bumi Kondosapata Mamasa. Sebuah kabupaten di pengunungan Sulawesi Barat ini kembali dilanda bencana alam. Kali ini banjir bandang dan tanah longsor yang tiba-tiba menghantam Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong.

Sejumlah rumah penduduk pun terendam air, sebagian lainnya tertimbun material pasir, batu serta bangkai pohon yang terbawah derasnya arus sungai.

Tak hanya itu tanah longsor menghantam pemukiman warga. Puluhan orang harus kehilangan rumah. Mereka kini memilih ke rumah para kerabat dan keluarga yang lebih aman. Menurut data BPBD Mamasa, tercatat setidaknya 166 orang korban terdampak bajir dan longsor Batanguru.

Bersyukur, awak laman ini berkesempatan mengunjungi langsung lokasi bencana di Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong. Dari kunjungan ini sepenggal kisah pilu direkam dari dua orang bocah bernama Saparin dan adiknya Saleh.

Kisahnya berawal ketika sore yang diguyur hujan itu tiba-tiba berubah dengan logsor. Dua rumah bertengga bahkan roboh, rata dengan tanah usai dihantam material longsoran dari tebing. Rumah itu milik Martha (43) dan Marthen Luter Rotto (66).

Rumah milik Martha yang roboh dihantam longsor hari Kamis 6 Maret lalu (Foto: Frendy Cristian/masalembo)

Martha (43) ialah seorang perempuan tak lain adalah ibu dua bocah Saleh dan Saparin. Kedua anak ini memang tak berjarak jauh. Keduanya memang sudah berstatus siswa SMP di Sumarorong.

Saleh dan Saparin, dua bocah penghuni rumah itu terpaksa harus berjibaku meyelamatkan ibunya di tengah suasana sulit. Bahkan, mereka bertaruh nyawa demi ibu. Syukur mereka selamat, namun kisah ini akan menjadi peristiwa maha penting dalam ingatan kedua bocah tersebut, betapa tidak Tuhan masih memberi kesempatan untuk selamat dari maut.

Martha bercerita, sebelum terjadi longsor air lebih dulu masuk ke rumah mereka. Namun kedua anaknya sudah mewanti-wanti akan adanya longsor dari atas gunung di samping rumanya.

“Air pertama masuk di rumah, setelah itu anak saya Saprin berteriak kita harus lari mak, akan terjadi longsor," kisah Martha. 

Saat itu dia (Martha) tidak mau beranjak pergi karena di pikirannya kalaupun ada longsor akan biasa saja. Kedua anaknya lalu memaksa Martha bahkan menariknya keluar dari rumah.

"Anak saya berteriak sambil menangis hingga kami terselamatkan,” tutur Martha dengan mata sembab

Saat kejadian anak pertamanya bernama Aris sedang tidak di rumah. Ia keluar bersama bapaknya, maka hanya ada Saparin, Saleh dan dirinya.

Lanjut Martha mengungkap, ketika keluar dari rumah Ia terus dibawah lari kedua anaknya menuju rumah keluargan cukup jauh dari posisi awal mereka. Mereka berlari berburu waktu dengan longsor yang akhirnya merobohkan rumah mereka.

Saparin kakak Saleh menuturukan, saat itu ia dan adeknya tak mau berpikir panjang, lalu menarik ibu sekuatnya keluar dari rumah karena logsor sudah perlahan turun mendekati rumah. Tanah yang dia pijak sudah terasa bergerak dan rapuh.

Usai kejadian, gelap gulita datang. Lampu listrik mati hingga mereka tak bisa lagi balik melihat kondisi rumah malam itu. Jadilah mereka pengungsi di rumah kerabat.

Saat ini mereka masih bisa berharap, akan ada bantuan dari pemerintah agar dapat membagun kembali rumanya yang hancur dihantam longsor. (frd/har)

comments