Cegah Stunting Lewat Kampung Gizi

On Sabtu, Mei 18, 2019

MASALEMBO.COM

Kepala Dinas Kesehatan Mateng, Setya Bero

MATENG, MASALEMBO.COM - Permasalahan stunting yang melanda Sulawesi Barat, menjadi perhatian serius Pemkab Mamuju Tengah.  

Penyakit yang disebabkan kekurangan gizi kronis sejak bayi itu, akan diintervensi melalui program kampung gizi. "Ini target prioritas kami untuk mengatasi stunting di daerah ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Mateng, Setya Bero, saat ditemui, Jumat (17/5).

Permasalahan tersebut, lanjut Setyo, mestinya disosialisasikan keseluruh stakeholder terkait. Sehingga isu stategis nasional ini mampu diminimalisir. Sehubungan Mateng termasuk salah satu kabupaten di Sulbar yang terkena persoalan gizi buruk. Sebab itu Gerakkan Masyarakat Sadar Gizi (Germas Darzi) harus segera dilaksanakan. 

Setyo menjelaskan, Sulbar saat ini berada di peringkat lima tertinggi soal gizi kurang (Underweight) di Indonesia. Sedangkan kasus stunting atau balita pendek berada pada urutan kedua. Untuk kasus balita sangat kurus, disebut wisting berada di urutan 20 secara nasional.    

Untuk meredam masalah ini, Setya Bero, menggagas Proyek Perubahan Gerakkan Masyarakat Sadar Gizi (Germas Darzi). Program tersebut dibuat ketika mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) tingkat II tahun 2019 di Makassar, Sulawesi Selatan. "Germas Dazi ini akan kita implementasikan di daerah ini," terangnya. 

Ia menjelaskan, stunting merupakan permasalahan status gizi, atau kekurangan gizi dalam jangka lama. Ini terjadi pada anak usia nol sampai dua tahun. Setya menyatakan, jika perbaikan gizi hanya diintervensi Dinas Kesehatan, penyelesaian masalah diprediksi hanya 30 persen saja. Sementara selebihnya, akar permasalahan yang harus diselesaikan berada pada lintas sektoral. "Untuk itu dalam proyek perubahan ini saya gagas Germas Darzi. Program ini mendesain sebuah kampung atau desa menjadi desa sadar gizi. "Tahun ini percontohan kita terapkan di empat desa dalam kawasan dua kecamatan. Titik program di Desa Waeputeh dan Desa Kabubu Kecamatan Topoyo. Serta Desa Mahahe dan Desa Bambadaru Kecamatan Tobadak," urainya.    

Penerbitan Surat Keputusan (SK) Bupati Mateng tentang Kampung Gizi segera diusulkan. Setelah regulasi itu terbit, kampung gizi tersebut langsung merevitalisasi posyandu. Tempat tersebut akan didesain secantik mungkin agar bisa menarik minat anak-anak. Kemudian pengetahuan ibu hamil akan ditingkatkan. 

"Desain kampung gizi ini akan membuat percontohan melalui kerjasama ibu di desa sasaran. "Kegiatannya akan terintegrasi dengan ketahanan pangan, serta kelompok wanita tani," papar Kepala Dinkes Mateng. 

Dijelaskan pula, lahan pekarangan akan tanami sayuran dan kebutuhan lain. Sehingga lahan pekarangan di desa sasaran, akan tersedia kebutuhan pangan. Tentu saja setiap hari bisa dipetik, terutama ibu hamil yang memiliki masalah. 

Bagi balita yang mengalami status gizi kurang, atau gizi buruk, akan diberikan terapi. Dengan cara pemberian makanan tambahan yang dikontrol secara berkala. Ini akan melibatkan seluruh stakeholder di desa. "Kita juga akan gelar pameran pangan beraneka makanan bergizi. Kemudian pemanfaatan pekarangan rumah antar kelompok akan dilombakan," jelas Setya Bero.   

Ia berharap program kampung gizi dapat memotivasi masyarakat dan bisa memahami tentang sadar gizi dan. "Inilah esensi dari masyarakat sadar gizi," tutupnya. (jml/riz)  

comments