Kisah Pilu di Balik Keindahan Kota Mamasa

On Rabu, Mei 15, 2019

MASALEMBO.COM

Sambo Lebok. (Foto : Frendi C. -Masalembo.com)

MAMASA, MASALEMBO.COM -  Selasa sore 14 mei 2019, cuaca mendung meyelimuti kota itu, hujan rintik-rintik turun perlahan, lalu lalang kendaran masih terlihat disepanjang jalan kota Mamasa. Sebuah Kabupaten yang berada di pegunungan Sulawesi Barat yang berdiri pada tahun 2002 lalu.

Begitu banyaknya kendaraan hilir mudik di jalan-jalan, suara bising kendaran pun ikut menyumbang hangatnya kota di tengah kerumunan warga yang kian padat adalah pemandangan yang biasa di tanah dingin itu.

Terlihat di pinggiran  jalan kota sejumlah ibu-ibu duduk berderet rapi menunggu rejeki dari hasil dagang sayur mereka.Hujan mulai turun  sore itu,  terlihat salah satu dari mereka sedang sibuk menutup dagangannya dengan tenda yang mulai kusam, ia adalah  Sambo  Lebok, warga asal Talodo, Kecamatan Sesenapadang. 

Di tengah tantangan kerasnya hidup,  ia bersama kawan-kawannya setia menggelar dagangannya di salah satu teras pinggiran jalan kota Mamasa. Panas teriknya matahari serta debu jalanan dan kendaran yang lalu lalang sudah hal biasa bagi mereka , duduk berjam-jam begitu sabar menanti pembeli sayurannya.

Namun ketenangan Sambo Lebok, dan kawan-kawannya berjualan selalu terusik. Sesekali berlaku penertiban seluruh badan jalan oleh Satpol PP Pemerintah Kabupaten Mamasa. Mereka ditertibkan dengan alasan keindahan kota dan menggangu arus kendaran.

Jika sudah begitu para pedagang  ini dengan sigapnya menutup jualannya, sering ketika jualan mereka dibongkar paksa, hingga adu mulutpun dengan petugas Satpol kian tak terhindarkan.

 “Setiap harinya kita selalu was-was setiap saat selalu ada penertiban, jual kami sering sering dibongkar  dan dibawah  petugas,” keluh Sambo Lebok.

Ibu yang memiliki 4 anak itu mengaku, jika ia tak jualan sayur  khawatir  tak mampu menghidupi keluarganya.

"Suami saya hanya petani pak, sementara  masih  ada 3 anak saya yang masih sekolah dan satu lagi sudah tidak melanjut karena tak ada biaya,” tuturnya.

Sejak Pemkab Mamasa menutup pasar di tengah kota,lalu memindahkan ke lokasi pasar baru, sejak itulah Sambo dan sejumlah rekannya tetap bertahan berjualan di sekitar pasar lama itu.

Pemerintah Kabupaten  Mamasa sudah bangun pasar baru di Barra’-Barra sekitar dua tahun silam, yang berada di Desa Bombong Lambe, Kecamatan Mamasa. Tapi menurut Sambo dan rekan-rekanya , lokasinya cukup jauh tepat berada dilokasi jarang penduduk hingga sepi pembeli.

“Pasar baru yang  sudah dibagun itu berada ditengah hutan, jadi siapa yang mau kesana membeli jualan busuk saja kalau disana, ” paparnya.

Lanjut cerita Sambo Lebok, sayur yang ia jual hanya seharga Rp.2.500 itupun meraka beli dari salah satu distributor terlebih dahulu, kemudian dijual.

“Kita dagang itu untung-untungan, kadang sayurnya habis kadang pula tidak, tapi itulah rezeki,” tuturnya.

Setiap harinya, pagi dan sore Sambo Lebok harus menempu perjalanan berkilo-kilo meter dari kampung halamanya ke kota Mamasa demi berjualan sayur.

“Saya selalu pulang balik kampung  setiap harinya untuk berjualan, ”keluhnya.

Setiap berangkat menuju pasar, ia naik ojek meskipun tarif ojek ke kampungnya  mencapai 60 ribu rupiah, tentu terbayang jarak yang dia tempuh dalam perharinya.

Sambo dan rekan-rekanya kembali was-was, karena selasa kemarin (14/5) himbauan dari pihak Satpol PP untuk penertiban, kembali menghampiri mereka. Rabu, pagi  tadi satuan Satpol PP kembali turun dengan personil yang cukup banyak dengan bantun aparat kepolisian dari Polres Mamasa.

Para pedagang itu ditertibkan, adu mulut dengan petugas kian tak terhindarkan meski begitu penertiban tetap dilaksanakan.

Sambo dan rekan-rekanya berharap  ada kebijakan  pemerintah daerah dengan menyediakan lokasi atau tempat yang masih sekitaran kota,  agar mereka tetap bisa berjualan. 

“Kami begini pak karena juga punya keluarga yang ingin hidup layak. Tidak lebih dari itu pak,” tutupnya.

Disisi lain Kasat Satpol PP, Kain Lotong Sembe yang sempat terkonfirmasi laman ini beberapa waktu lalu mengatakan, penertiban dilakukan agar para pedagang itu bisa berjualan pada tempatnya, termasuk di pasar Barra- Barra yang sudah dibangun pemerintah.

“Kita mau melihat  kota ini agak rapi dan teratur,” tegas dia.(frd) 

comments