Pemuda Sulbar Inspiratif: Bangga Kenakan Sutra Mandar di Negeri Paman Sam

On Kamis, Mei 09, 2019

MASALEMBO.COM

Muhammad Rifai Sahida di depan gedung kongres Washington DC Amerika Serikat (Handover/Muhammad Rifai Sahida)

MAMUJU, MASALEMBO.COM - Pemuda Sulbar ini mengaku bangga mengenakan kain sutra Mandar di kota bersejarah dunia Washington DC Amerika Serikat. Ia mengenakan sarung Mandar pada puncak program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang dia ikuti. 

Pemuda inspiratif berusia 21 tahun ini adalah Muhammad Rifai Sahida. Masih berstatus mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. 

Meski kuliah di kampus kecil di Mamuju, namun prestasi Muhammad Rifai patut dibanggakan. Betapa tidak, ia berhasil menjadi wakil Indonesia di program YSEALI Academic Fellowship Enviroment Issues 2019 yang digelar di Amerika Serikat selama enam pekan. Dia berhasil mewakili Indonesia setelah mengikuti serangkaian seleksi ketat yang digelar Kedutaan AS awal 2019 lalu.


Baca: Selamat, Mahasiswa STIE Muhammadiyah Mamuju Ini Lolos ke Amerika

Kini, Rifai telah menyelesaikan semua agenda YSEALI dengan mengikuti kuliah program pendidikan short term di University Of Montana di Montana, Amerika Serikat dan puncaknya di Washington DC.

"Ini adalah hari yang luar biasa.
Terima kasih kepada Pemerintah Amerika Serikat memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini," kata Rifai Sahida via massanger, Rabu (8/5/2019) usai pengukuhan dirinya sebagai lulusan YSEALI.

YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) Academic Fellowship, adalah program kuliah singkat (short-course) dan pelatihan intensif yang diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat selama enam minggu di negeri Paman Sam. 

"Saya telah dinyatakan lulus dan menjadi alumni YSEALI Academic Fellowship Enviroment Issues 2019," ucap Rifai


Kepada awak masalembo.com Rifai menuturkan selama di Amerika dia banyak mendapat pelajaran, mulai manajemen pengelolaan sampah hingga kebijakan Amerika terkait lingkungan dan sampah. "Saya juga belajar bagaimana orang-orang Amerika diajarkan pengelolaan sampah mulai sejak anak-anak, masih banyak lagi," tutur Rifai.

Fa'i sapaan Rifai juga belajar bagaimana pemerintah Amerika Serikat membuat kebijakan masalah sampah hingga budaya dan leadership di negeri Donal Trump tersebut.

"Ini pengalaman yang tidak bisa dibayar dengan apapun, bertemu dengan orang-orang luar biasa dan bersatu bersama pemuda yang luar biasa dari 10 negara ASEAN," ucap Rifai.

Rifai berharap, ilmu dan pengalaman selama mengikuti kegiatan ini membawa manfaat bagi orang lain, setidaknya untuk diri sendiri di masa mendatang. (har/red)

comments