Nestapa Mudik ke Ulumanda, Warga: Kami Belum Merdeka

On Rabu, Juni 12, 2019

MASALEMBO.COM

Ruas Ba'ba Sondong-Urekang, gambar ini diambil di gunung Tandeallo desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda (Egi/Masalembo.com)

MAJENE, MASALEMBO.COM - Mudik lebaran di musim penghujan tahun ini menyisahkan nestapa bagi warga empat desa di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Bagaimana tidak, buruknya infrastruktur jalan melahirkan kisah perjuangan menohok bagi para pemudik Ulumanda. Bahkan bagi mereka kemerdekaan belum dapat dinikmati karena akses dari dan menuju kampung halaman amatlah sulit.

Salah seorang pemudik, Aliem Bahri, menyampaikan keluhannya pada awak masalembo.com, Senin (10/6/2019). Ia mengaku, sejak 30 tahun hasrat warga Ulumanda menikmati jalan yang layak hingga kini belum terealisasi, malah jauh dari harapan tersebut.

"Sebagai warga masyarakat ataupun putra daerah asli Ulumanda yang sejak tahun 2001 hingga kini ikut menyuarakan pembangunan infrastruktur jalan, saya sangat menyayangkan perhatian pemerintah yang selama kurang lebih 30 tahun lamanya, perbaikan jalan hampir bisa dikatakan tidak ada peningkatan sama sekali, yang ada malah semakin memprihatinkan," kata Aliem, warga yang mudik ke kampung halamannya di Taukong, Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda.

Memang, pergi ke Kecamatan Ulumanda haruslah melintasi medan terjal berlumpur dan serba sulit. Apalagi di kala musim penghujan seperti ini. Menghadapi lumpur yang licin dan jalan penuh lubang memaksa warga harus berjalan kaki. Sebagaian juga nekat memaksa kendaraan melintas. Tak jarang warga beramai-ramai mendorong mobil offroad (hartop), menandu motor di titik-titik terparah untuk dapat melewati jalanan. 

"Kita belum menikmati kemerdekaan jika kondisi jalan ini terus begini," ucap Aliem.

Aliem Bahri adalah salah satu dari puluhan pemudik yang harus berjuang keras menghadapi rintangan itu. Ia membawa serta keluarga pulang bertemu sanak family ke kampung Taukong, sekitar 30 kilometer dari jalan poros lintas barat Jl. Trans Sulawesi Majene-Mamuju.

Saat ini Aliem Bahri memang berdomisili di Makassar, namun sanak keluarga termasuk orang tua yang tinggal di Ulumanda memaksa harus mudik setiap tahun. Ia juga kerap pulang dan menyaksikan kondisi jalan yang tak kunjung membaik.

"Hati kami tersayat-sayat rasanya menyaksikan warga Ulumanda. Ketika sakit hanya mobil jenis hartop yang bisa dimanfaatkan, itupun terkadang tidak mampu menembus jalanan yg penuh dengan lumpur dan bebatuan sehingga alternatif terbaik adalah menandu sepanjang puluhan kilometer berjalan kaki," ucap Aliem.


Kondisi jalan Ulumanda di gunung Tandeallo, gambar diambil Minggu 9 Juni 2019. (egi/Masalembo.com)

Pria kelahiran Ulumanda yang kini berprofesi sebagai dosen di Kota Makassar ini lantas menyorot kualitas hidup warga empat desa di pengunungan bagian Utara-Timur Kabupaten Majene ini. Menurutnya, buruknya infrastruktur jalan telah memperpanjang rantai kemiskinan di Kecamatan Ulumanda.

"Tentu saja ini menjadi pemicu semakin memburuknya perekonomian warga. Potensi-potensi ekonomi yang harusnya bisa dikembangkan menjadi sumber pendapatan asli desa ataupun kabupaten juga seolah tidak ada gunanya. Semuanya terpasung oleh kondisi infrastruktur jalan. Hal ini semua tentu secara tidak langsung berimplikasi buruk terhadap Pemda, kabupaten maupun provinsi," ucapnya.

Seperti hasil pertanian warga, kata Bahri, sebanyak apapun hasilnya tidak akan maksimal karena terkendala pemasaran.

"Jika ini terus dibiarkan maka bagi saya, ibarat orang tua, pemerintah telah menelantarkan anak-anaknya, membiarkan anak-anaknya kelaparan, tersiksa, teraniaya," ucap mantan aktivis mahasiswa Sulsel ini.

Minta Penanganan Darurat

Bukan hanya pemudik yang meresahkan jalanan Ulumanda. Pemerintah setempat juga menyampaikan hal sama. Namun, mereka hanya bisa berharap ada upaya perbaikan jalan, minimal tanggap darurat untuk membuka akses jalan yang kini mulai menutup di empat desa bagian pegunungan.

"Ada empat desa bagian atas yang sulit, khususnya dua desa, Ulumanda dan Popenga lumpuh total. Tidak bisa dilewati kendraan roda empat maupun roda dua," kata Muhammad Arief, Sekretaris Camat Ulumanda, Selasa (11/6).

Kepada wartawan, Muhammad Arief berharap, Pemprov Sulbar segera membantu warga empat desa di bagian pegunungan Kecamatan Ulumanda. Jalan ini kata Arief, menjadi wewenang Pemprov Sulbar sehingga harapan tertuju ke mereka (Pemda Sulbar).

"Kalau sekiranya bisa dikerahkn alat berat untuk bisa mengtasi sementara, pak desa siap menanggulngi bahan bakarnya, kami sudah bicara," ucap Arief.

Sekretaris Provinsi Sulbar Muhammad Idris mengaku akan segera menurunkan alat berat untuk penanganan darurat jalan Ulumanda. Sekprov yang juga tokoh masyarakat Ulumanda ini juga mengaku Pemprov Sulbar bertanggung jawab atas kondisi jalan Ulumanda. 

"Kemarin saya rencana akan salat tarwih terakhir di Taukong, saya sudah di Kabiraan tapi tidak bisa naik Taukong karena jalan rusak berat. Saya katakan harus dirubah itu, titik pendakian terparah tidak bisa kalau tidak dirubah," singkat Idris.

Berharap Dapat Anggaran Pusat

Sementara itu, tokoh pemuda yang juga kepala desa Kabiraan Paharuddin juga kembali angkat suara soal kondisi terkini jalan Ulumanda. Menurutnya, perlu mencari upaya kolektif semua pihak terkait demi mengakselerasi pembaikan jalan Ulumanda. 

Menurut Kades yang juga mantan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Mandar Majene (IPPMIMM) ini, perhatian Pemprov Sulbar sudah cukup baik. Namun, minimnya anggaran Pemerintah menjadi kendala. "Kalau kita hitung-hitung Pemprov terus kasih anggaran, namun jalanan kita ini butuh anggaran besar, ratusan miliar, jadi perlu cari jalan mendapat anggaran pusat," ucap Paharuddin.

Udin, sapaan Paharuddin lantas mengusulkan jalan Ulumanda di dorong ke jalan nasional, paling tidak jalan Transmigrasi seperti ruas Taukong-Tamajannag yang juga di Kecamatan Ulumanda. 


Kondisi jalan Ulumanda (egi/Masalembo.com)

"Intinya kalau saya mau diarahkan kemana saja asal dapat diinterfensi anggaran pusat, apakah jalan transmigrasi atau jalan strategis nasional yang penting bisa mendapat anggaran besar karena dana Pemprov nampaknya tidak cukup," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Transmigrasi Sulbar Herdin Ismail mengatakan Ulumanda mungkin saja menjadi jalan transmigrasi. Namun, Herdin menjelaskan, jalan transmigrasi tak bisa berstatus jalan provinsi seperti saat ini. 

"Sepanjang jalan tersebut belum memiliki status, dimungkinkan, ditambah komunikasi Pemerintah Daerah ndik," kata Herdin diminta tanggapannya via WhatsApp, Selasa (11/6).

Herdin mengatakan, jika langkah perubahan status jalan Ulumanda diinginkan semua pihak termasuk warga, maka jalan pertama adalah menyampaikan ke Kementerian melalui Pemprov Sulbar. "Kalau bisa dikomunikasikan dengan Kementerian, Inshaa Allah akan diprogramkan," ucapnya. (har/red)

comments