Sepulang dari Yogyakarta, Kedua Sarjana Ini Berbisnis Jagung Bakar

On Rabu, Juli 17, 2019

MASALEMBO.COM

Pian (Kaos putih) dibantu adiknya Beni dan rekannya Rizky, sibuk membakar dan membungkus jagung bakar. (Foto: Jamal Tanniewa)

MASALEMBO.COM -- Siapa sangka, dua pemuda yang berjualan jagung bakar di pinggir jalan, adalah lulusan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta.

Kedua sarjana itu, mencoba mengembangkan usaha mandiri melalui bisnis jagung bakar.  Mereka membuka usaha dipinggir jalan trans Sulawesi, tepatnya di Polohu Desa Babana Kecamatan Budong-Budong.

Kendati tempat belum memadai, itu bukan masalah bagi Pian (23) dan Rizky (23). Keduanya tetap bersemangat karena tidak lagi membebani orangtua. "Kami malah bangga karena sudah bisa belajar mandiri," ucap Pian, sambil melayani konsumen yang antre, (16/7).

Pian dan Rizky, mengaku terinspirasi dari kegigihan bapak kosnya di Yogyakarta. Saat masih kuliah, bapak itu jual jagung bakar. Bisnis tersebut dilakoni selama 25 tahun. "Makanya begitu tamat tahun ini (2019,red), kami langsung pulang dan mencoba terapkan. Semoga berhasil," tutur Pian.

Modal awal membuka bisnis jagung bakar, hanya Rp50 ribu. Itulah yang digunakan Pian bersama Rizky mengembangkan usahanya. Alhasil dalam waktu sepekan, modal usaha berkembang. Kini rasa jagung bakar yang disajikan terbagi 10 pilihan. Yakni rasa original, manis, asin, pedas, manis asin, pedas manis, pedas asin, nano-nano, balado, dan rasa keju. "Beda pilihan tapi harga tetap sama," jelas Pian.

Ditanya soal cita-cita, warga asal Desa Waeputeh Kecamatan Topoyo itu, ingin menjadi pengusaha sukses. Ia bahkan tak minat jadi ASN, apalagi karyawan swasta. Impiannya menjadi pengusaha karena ingin mempekerjakan pengangguran.

"Saya tidak ingin bergantung ke orang lain. Saya ingin membuka usaha agar nantinya bisa mengajak saudara dan teman-teman yang pengangguran," ungkapnya.

Tekad Pian, tak beda dengan Risky. Warga Salugatta Kecamatan Budong-Budong itu juga bercita-cita ingin menjadi pengusaha sukses.

Saat ditemui di lokasi penjualan, adik Pian bernama Beni, juga ikut membantu kakaknya. Pelajar yang masih duduk di bangkus kelas tiga SMA itu, terlihat begitu bersemangat. Tekad kemandirian ketiga remaja ini patut diacungi jempol. (jml/riz)

comments