Cerita Para Pengrajin Tenun Sutra Mandar yang Terkendala Bahan

On Jumat, Agustus 30, 2019

MASALEMBO.COM

Pengrajin tenun sutra Mandar hadir di pengukuhan Kepala BI Sulbar di Mamuju (Awal S/Masalembo.com)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Masyarakat Mandar yang mendiami Provinsi Sulawesi Barat, masih melestarikan tradisi menenun sutra. Tenunan sarung sutra Mandar pun cukup terkenal ke berbagai daerah di Indonesia. Kualitasnya dikenal tinggi karena tenunannya yang halus. Coraknya pun dapat dibedakan secara jelas dari tenunan sutra Bugis dan Makassar. Sayangnya, para pengrajin tenun sutra di Mandar kini mulai terkendala melakukan produksi. Para penenun mengaku mulai kesulitan mendapatkan bahan khususnya benang.

Ibu Sitti Nur (48) misalnya. Ia terpaksa mendatangkan benang sutra dari luar Sulbar untuk melanjutkan usaha tenun miliknya di Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Dia terpaksa memesan benang sutra ke Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan.

"Bahan benangnya dari negara India tapi kita belinya di Sengkang Sulawesi Selatan," ujar Sitti, ditemui sela-sela pengukuhan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulbar di hotel d'Maleo Mamuju, Jumat (30/8/2019).

Sitti Nur mengaku, untuk memproduksi satu sarung sutra Mandar harus membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari, sementara bahan susah ia dapat. Sepuluh hari harus bergelut menyelesaikan satu sarung karena pintal tenun masih menggunakan alat tradisional yang terbuat dari kayu. Belum lagi ketika musim penghujan aktivitas menenun terpaksa ia tunda dan mencari pekerjaan di luar untuk memenuhi kebutan dalam rumah tangganya. "Kalau musim hujan kita tidak bisa menenun karena benangya melengket," terangnya.

Sitti mengatakan mereka memiliki kelompok penenun yang diberi nama "Kube Harapan." Kelompok beranggotakan 30 orang ini adalah warga Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman.

Kata Sitti, menenun dalam keluarganya memang sudah turun-temurun. Bahkan dirinya sudah puluhan tahun menenun. Harga yang ditawarkan Sitti pun bervariasi, tergantung motif tenunan. Ia mengaku menjual sarung sutra Mandar dari harga terendah Rp150 hingga Rp700 per lembar. 

Rekan Sitti, juga pengrajin sutra Mandar, Mia mengaku, selain sarung yang diproduksi mereka juga menyediakan aksesoris tenunan lainnya seperti sal, selendang, tas, gorden bahkan baju. Tak jarang para pemesan memilih motif sendiri yang dilihatnya dari internet untuk dibuatkan.

Soal pemasaran, Mia juga Sitti mengaku masih kebanyakan di wilayah Sulbar. Kerap juga ke Jakarta dan berbagai daerah di tanah air bahkan ke negara tetangga seperti Malaysia.

Cerita yang sama diungkap Tharib Muhammad pecinta sarung sutra Mandar dari Campalagian. Ia mengatakan orang lebih banyak mengenal tenun sutra dari daerah Sengkang, Sulawesi Selatan. Padahal sarung sutra Mandar tidak kalah kualitasnya. Sutra Mandar kata Tharib masih menggunakan alat tradisional yang benangnya lebih rapat dan tidak muda melar.

Tharib mengaku dirinya aktif mengikuti setiap kali ada pameran baik lokal maupun nasional untuk mengenalkan kain sutra Mandar. Selain itu, juga aktif mempromosikan di media sosial. (awl/har)

comments