Opini: Contagion dan Pergolakan Manusia Melawan Virus

On Friday, March 27, 2020

MASALEMBO.COM

Aco Nursamsu *)


SETELAH berkunjung dari Asia, suhu tubuh Beth Emhoff mencapai 38,7 derajat Celcius. Susah menelan makanan, pusing, lalu kejang-kejang. Puncaknya Beth meninggal dunia. Kematian Beth dianggap tidak wajar menyita perhatian Dr. Arrington (Steef Tovar), Dr. Cheever, Dr. Leonora. Tim medis ini melakukan serangkain riset. Hasilnya, mereka menemukan gen kelelawar yang berbaur dengan gen babi dalam sebuah virus baru tak bernama. Dalam waktu 133 hari, virus ini menyebar dan menewaskan satu persen populasi penduduk bumi.

Begitulah synopsis singkat dari Flim Contagion. Sebuah flim yang dirilis 2011 oleh Steven Sodenbergh dan penulis naskah Scoot Z. Bruns ini, seoalah menjadi ramalan yang tergenapkan oleh munculnya pandemi Covid-19 yang menggegerkan masyakat global.

Mula-mula virus ini bernama nCoV-19 yang berarti “novel corona virus” penyakit pernapasan akut- 2019. Setelah diumumkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), 11 Februari 2020 dari hasil identifikasi pertama di China 31 Desember 2019. Maka virus ini diberi nama Covid-19. Menurut penjelasan Jendral WHO Thedros Adhanom Ghebreyesus bahwa, asal-usul dari pemberian nama tersebut yaitu “co” berarti “corona”, “vi” berarti “virus”, dan “d” berarti “disease" (penyakit)”.

Terhitung dari kelahirannya yang masih sangat muda, Covid-19 hanya membutuhkan waktu tiga bulan menyebar ke 198 negara secara cepat, menginfeksi 538.742 menewaskan 24.107 penduduk bumi . (ncov2019.live/data 27 maret). Ini meningkatkan status Covid-19 dari epidemi menjadi pandemi sesuai dengan pengumuman WHO pada 11 maret 2020.

Globalisasi menjadi sarana ideal penyebaran Covid-19, seperti ungkapan Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus tentang armada bayangan halaman enam dan tujuh. “Kota-kota sibuk yang dihubungkan oleh arus tiada putus pedagang, pejabat, dan peziarah menjadi alas tumpuan peradaban manusia sekaligus lahan tumbuh ideal patogen”.

Setiap orang akan berfikir, dunia seharusnya melakukan de-globalisasi. Menutup diri, membatasi perjalanan, mengurangi perdagangan. Isolasionisme seperti ini hanya akan melahirkan krisis ekonomi global, tanpa menawarkan perlindungan nyata terhadap penyakit. Begitu pula dengan memasrahkan diri pada mistik dan agama, dengan mengorganisir doa-doa massal untuk berbagi kepada Tuhan atau orang suci. Berdoa penuh khusyuk di bawah pohon sambil membakar kemenyan. Justru ketika orang-orang berkumpul bersama untuk sembahyang massal, ini sering menyebabkan infeksi massal.

Mari kita belajar pada sejarah!

Saya mengajak pembaca budiman, berjalan-jalan pada abad ke-14 tepatnya 690 tahun lalu. Pada tahun 1330 di suatu tempat di Asia Timur, tidak ada pesawat dan kapal pesiar. Dimana profesi dokter, karantina, vaksin dan anti biotik belum dekenal. Manusia saat itu hanya mampu menyalahkan penyakit pada dewa marah, setan jahat atau udara buruk dan tidak mencurigai bakteri virus. Mereka dengan mudahnya percaya pada malaikat tapi tidak pernah membayangkan ada seekor kutu mungil atau tiap tetes air mungkin berisi satu armada penuh predator yang mematikan. Apa yang terjadi? Manusia tergeletak mati di rumah-rumah, di kebun-kebun akibat  bakteri penumpang kutu yersenia pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu. Masyarakat saat itu menamakankanya maut hitam (black death). Dari sana dengan menumpang armada tikus dan kutu, wabah dengan cepat menyebar keseluruh Asia, Eropa, dan Afrika Utara, dan hanya waktu kurang dari dua tahun mencapai pesisir-pesisir Samudra Atlantik. Antara 75 juta dan 200 juta orang yang mati karena wabah ini. 

Kemudian kita putar roda waktu, mempercepatnya hingga 190 tahun setelanya. Kini kita berada pada maret 1520, saat masyarakat maya di semaenanjung Yukatan meyakini bahwa kematian saat itu dianggap karena ulah tiga dewa jahat-Ekpetz, Uzamkuk, dan Sonjakak terbang dari desa ke desa pada malam hari, menulari orang-orang dengan penyakit itu. Atau suku Aztec menyebutnya sihir hitam dari orang kulit putih. Akibatnya Meksiko dengan jumlah penduduk 22 juta jiwa menyusut menjadi 14 juta jiwa.  Mereka tidak mengetahui bahwa wabah itu dibawa oleh kapal perang Spanyol setelah mendarat di Meksiko. Setelah seorang budak yang bernama Francisko de Egula penumpang kapal yang menderita cacar, menginap di sebuah desa Cempoallan dan menjangkiti penghuni rumah dan tetangga. Praktis hanya sepuluh hari desa tersebut menjadi lahan kuburan. 

Sekarang roda waktu mengajak kita berlari cepat memasuki abad ke-20. Kini kita berdiri di depan gerbang awal 1918 tepatnya 18 Januari, dimana kombinasi populasi yang tumbuh pesat dan transfortasi yang lebih baik. Kondisi ini membuat manusia lebih rawan pada epidemi ketimbang manuasia di abad pertengahan. Saat parit-parit di Prancis Utara dipenuhi mayat bala tentara dalam jumlah ribuan akibat satu galur flu yang sangat ganas yang dijuluki “Flu Spanyol”. Manusia dan amunisi mengalir dari Inggris, Amerika Serikat, India dan Australia. Minyak dikirim dari Timur Tengah, gandum dan sapi dari Argentina, karet dari Malaysia, dan tembaga dari Kongo. Sebagai gantinya, mereka semua terinfeksi Flu Spanyol. Dalam beberapa bulan saja, sekitar setengah miliar orang-sepertiga dari populasi global ambruk oleh virus itu. Wabah ini membunuh manusia sampai 100 juta dalam waktu kurang dari satu tahun, sementara perang Dunia Pertama hanya membunuh 40 juta orang dari 1914 sampai 1918. 

Dewasa ini sejarah telah mengajarkan kita bahwa, isolasionisme dan mistifikasi adalah upaya yang sia-sia. Melalui pendekatan teori evolusi para ilmuwan, dokter dan perawat di seluruh dunia berhasil memahami mekanisme di balik epidemi dan cara melawannya. Genetika memungkinkan para ilmuan memata-matai instruksi manual patogen sendiri. Sementara orang-orang di abad pertengahan tidak pernah menemukan apa yang menyebabkan munculnya maut hitam (Black Death). Hanya butuh waktu dua minggu bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi Covid-19, mengurutkan genomnya dan mengembangkan tes yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi orang yang terifeksi. 
Masyarakat dunia tidak mesti harus panik juga tidak boleh bersantai ria, seperti data yang yang dilansir oleh ncov2019.data/live dari kasus global 490.099, pasien yang sembuh lebih besar dengan jumlah 124,178 ketimbang yang meninggal dengan jumlah 22.028.  

Apa yang diajarkan sejarah ini kepada kita untuk pandemi Covid-19? 

Pertama, ini mengisyarakatkan bahwa negara di dunia tidak boleh menutup diri dengan permanen sebab pandemi menyebar sangat cepat bahkan di abad pertengahan. Untuk benar-benar melindungi diri melalui isolasi pergi abad pertengahan tidak akan berhasil. Kita akan pergi ke zaman batu penuh. Apakah kita mampu melakukan itu? 
Kedua. Sejarah menunjukkan bahwa perlindungan nyata berbagai informasi ilmiah yang dapat diandalkan dan solidaritas global sepenuhnya. 

Kemanusian akan menang melawan pandemi karena perlombaan senjata antrara patogen dan dokter, patogen mengandalkan mutasi buta sementara dokter mengandalkan analisis ilmiah tutur Yuval Yoah Harari.

Referensi 
1. Noval Noah Harari: homo sapiens ; 527 halaman
2. Time.co : Yuval Noah Harari; In the Battle Against corona virus,humanity lack leadership; 15 maret 2020. (*)

*) Penulis adalah Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY).












comments