Malam ke 27 Ramadan Lailatul Qadar Turun di Masjid Mangkoso

On Jumat, Mei 31, 2019

MASALEMBO.COM

Ilustrasi (inet)

MASALEMBO.COM- Malam ini adalah malam ke 27 Ramadan 1440 Hijriyah tahun 2019 Masehi. Tepat 80 tahun lalu sebuah peristiwa di luar nalar terjadi di masjid Mangkoso, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Peristiwa spritual itu dialami Anre Gurutta Haji (AGH) Ambo Dalle, pendiri Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) yang berkembang pesat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat hingga saat ini.

Kisah nyata yang diceritakan secara turun-temurun kepada santri Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru ini, terjadi pada malam ke 27 Ramadan tahun 1939 Masehi.

Saat itu, Anre Gurutta Haji (AGH) Ambo Dalle tengah beritikaf di masjid, tiba-tiba seberkas cahaya terang berderang turun dari langit. Peristiwa ini disaksikan oleh warga sekitar.

Cahaya berkilauan di tengah kegelapan malam itu masuk ke masjid lewat atap. AGH Ambo Dalle yang sedang itikaf duduk bersila di tengah ruangan masjid dikelilingi tujuh gumpalan cahaya itu. Listrik belum ada sehingga cahaya yang menggumpal di sekitar AGH Ambo Dalle tampak sangat terang.

Baca juga: 

Lebaran Perdana di Negeri Piramida dan Kerinduan Shiddiq ke Kampung Halaman di Sulbar

Pahala Orang yang Tidur Seharian saat Berpuasa

Sejumlah warga yang melihat gumpalan cahaya di masjid lantas berlarian ke tempat itu karena mengira masjid sedang terbakar. Namun, saat warga tiba, cahaya perlahan-lahan melayang ke arah kediaman Ambo Dalle, sekitar 50 meter dari masjid.

Warga sekitar menyakini AGH Ambo Dalle mengalami peristiwa Lailatul Qadar di tahun pertama pengembangan Pondok Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI) Mangkoso yang belakangan berubah nama menjadi Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI).

Masjid yang ditempati AGH Ambo Dalle itikaf saat didatangi Lailatul Qadar kini bernama masjid Jami’ Addariah di Komplek Pondok Pesantren DDI Mangkoso.

“Peristiwa spiritual luar biasa tersebut ditandai oleh seberkas cahaya yang memenuhi setiap sudut masjid.Masyarakat Mangkoso yang kebetulan terjaga malam itu menyangka kalau masjid terbakar. Gurutta Abdul Rahman Ambo Dalle mendoakan agar diberi ilmu yang berkah dan tujuh generasinya menjadi ulama besar Ahlussunnah Wal Jamaah,” jelas pembina Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Ahmad Rasyid Amberi Said, seperti dikutip TribunNews.com dari Tribun-Timur.com 2016 lalu.

Seperti yang jamak diketahui umat Islam, Lailatur Qadar sendiri seperti pendapat para ulama hadir pada hari-hari terakhir bulan puasa. Istilah Lailatul Qadar pun kerap terngiang di benak kaum Muslim khususnya di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan.

Seorang ulama berkata, muslim yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya pasti sangat merindukan Lailatul Qadar. Karena malam itu teramat istimewa, malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan.

Malam ini juga dipercaya sebagai waktu turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril atas izin-Nya.

Lailatul Qadar juga kerap disebut sebagai malam penuh kedamaian hingga terbit fajar.

Lailatul Qadar atau Lailatul Al-Qadar adalah malam penting yang hanya terjadi di bulan Ramadan dan malam lailatul Qadar juga malam yang dimuliakan Allah SWT melebihi malam malam lainnya.

Pendapat ulama mengatakan, malam Lailatul Qadar terjadi pada 1 malam ganjil pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan (malam ke 21, 23, 25, 27, atau 29). Seperti kata Aisyah r.a. berkata istri Nabi, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, dan beliau bersabda, ‘carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. (HR Bukhari dan HR Muslim). (red)

comments