Menuju Kelapa Sawit yang Produktif

On Jumat, November 15, 2019

MASALEMBO.COM




Mamuju, Masalembo.com - Dalam kiprahnya, Kabupaten Mamuju sudah menjadi Ibu Kota Provinsi sejak 15 tahun silam. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat pada kegiatan Seminar Peningkatan Kompetisi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang Industri Kelapa Sawit Indonesia.

Beliau menyampaikan kiprah Sulawesi Barat menjadi Ibu Kota Provinsi, salah satu halnya adalah karena suntingan investasi dari pemerintah atau sumber anggaran yang berasal dari APBN pemerintah pusat.

Saat ini alokasi APBN untuk Sulawesi Barat mencapai 2 triliun rupiah. Sumber lainnya adalah berasal dari Crude Palm Oil (CPO). Sebagai sumber penghasil kelapa sawit, tentunya kegiatan seminar ini penting. Apalagi salah satu faktor Kabupaten Mamuju menjadi Provinsi baru karena faktor sumber pendapatan yang dihasilkan, salah satunya bersumber dari kelapa sawit.

"Terdapat 17 perusahaan sawit dengan luas 79.000 hektar, 43.000 hektar merupakan kebun inti dan 13.000 merupakan plasma. Salah satu hal menjadi sumber pendapatan Sulbar adalah salah satunya sawit” Jelas Muhammad Idris, Sekda Provinsi Sulbar.

Mengembangkan Bibit Sawit Produktif
Dengan luas lahan yang saat ini dimiliki, Sulawesi Barat harus bisa memanfaatkan lahan tersebut dengan produktif.

Hal tersebut diutarakan oleh Prof. Laode. Dengan memilih bibit unggul secara selektif, maka hasil sawit akan mendapatkan jenis produksi yang baik, salah satunya adalah sawit dengan jenis Tenerra.

Beliau menghimbau bahwa banyak sekali bibit palsu yang beredar, “hal itu perlu diperhatikan betul karena hanya akan memberikan pertumbuhan yang baik pada phon, tetapi belum tentu menghasilkan buah yang baik” Jelas Prof. Laode.

Turunan kelapa sawit tentunya sangat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, pasalnya semua produk turunan rata-rata berbahan dasar kelapa sawit, contohnya alam kosmetik bagi wanita, rempah-rempah sebagai bahan konsumsi sehari-hari.

Harga CPO Menunjukkan Tren Positif
Dalam sepekan terakhir, harga CPO berhasil menembus naik 2,42%. Hal ini disebabkan dengan faktor permintaan yang cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan biodiesel.

Namun secara umum, harga komoditas masih cenderung tertekan, hal ini disebabkan karena krisis global dan tensi perang dagang yang masih fluktuatif, disusul dengan pergerakan dolar AS yang cenderung menguat.
Perang dagang seharusnya menjadi momentum untuk bisa mendorong permintaan CPO yang lebih baik dari China. Selain itu, musim kemarau berkepanjangan juga bisa memicu el nino dan bisa menjadi sentiment positif bagi harga CPO.

Membaiknya harga sawit saat ini kemungkinan baru akan terasa manfaatnya pada tahun depan. Apalagi, prospek konsumsi minyak sawit global diprediksi akan tumbuh 7,1% di 2019 dan 5,1% di 2020. Angka tersebut otomatis akan jauh lebih tinggi dibandingkan capaian rata-rata 5 tahun terakhir, yang hanya berkisar di angka 2,9%.

Hilirisasi Jadi Kunci

Sulawesi Barat merupakan daerah penghasil kelapa sawit di Pulau Sulawesi. Memiliki Potensi pertumbuhan 25,51% dalam periode 2015 – 2019. Untuk menstabilkan harga tersebut, seharusnya pelaku usaha kelapa sawit memiliki resep jitu di tengah gonjang ganjingnya harga TBS, dengan memproduksi turunan sawit sendiri agar tidak ketergantungan dengan ekspor dalam maupun luar negeri.

Program jangka panjang merupakan langkah yang ideal dalam mengembangkan hilirisasi industri. Dengan produksi CPO sebesar 588.597 Ton mestinya Sulbar bisa mencukupi kebutuhan minyak sawit untuk dijadikan produk turunan yang dapat digunakan sehari-hari.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, maka berakhir pula lah seluruh rangkaian kegiatan Seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang Industri Kelapa Sawit Indonesia yang sudah dilakukan di 5 kota di berbagai daerah dan Mamuju, Sulawesi Barat menjadi kota terakhir. 

(dir)

comments