Pemkab Majene Susun Dokumen Rencana Induk Kelautan dan Perikanan

On Jumat, November 01, 2019

MASALEMBO.COM

Bupati Fahmi Massiara (tengah) diapit Kadis Kelautan dan Perikanan dengan Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bio Teknologi Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Prof. Dr. Hari Eko Irianto. (Foto: Humas Setda Majene)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Pemerintah Kabupaten Majene tampaknya mulai serius mengembangkan potensi kelautan dan perikanan. Hal itu ditandai dengan penyusunan dokumen rencana induk kelautan dan perikanan yang dimulai dengan menggelar Focus Group Discusion (FGD), Jumat (1/11/2019) pagi tadi.

Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bio Teknologi Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Prof. Dr. Hari Eko Irianto yang hadir di FGD ini mengatakan, penyusunan dokumen rencana induk kelautan dan perikanan ini akan mengacu pada visi dan misi bupati. Tentunya, memamanfaatkan segela potensi sumber daya yang ada. Menurut Eko, perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor unggulan di Kabupaten Majene.

"Kita akan susun master plan, ini merupakan hal yang penting. Nantinya, dengan master plan yang ada, akan ada perencanaan-perencanaan yang akan dikerjakan," ujarnya.

Prof Eko yang ketua tim penyusunan dokumen kelautan dan perikanan Pemkab Majene itu mengatakan, dalam satu bulan kedepan pihaknya akan menuntaskan perencanaan pengelolaan kelautan dan perikanan Pemkab Majene, sehingga tahun depan mulai dikerjakan.

"Kita ada waktu sekitar satu bulan, untuk itu kami akan bekerja keras menjaring masukan-masukan, tentu dengan melihat visi dan misi bupati. Jadi mulai tahun depan tinggal pelaksanaan. Kita berharap pelaksanaan kita tetap mengawal," pungkasnya.

Sementara, bupati Fahmi Massiara di kesempatan ini, menyampaikan potensi kelautan dan perikanan di daerahnya cukup besar. Ia menjelaskan, secara geografis Majene memiliki pantai sekitar 125 kilometer dengan potensi perikanan tangkap berkisar 18.000 per tahun. Namun, kata Fahmi, data BPS menunjukkan total produkasi sektor kelautan dan perikanan Majene tahun 2016 baru mencapai 4.672,8 ton sedangkan tahun 2017 meningkat menjadi 7.183,7 ton.

"Kita masih memiliki potensi yang cukup besar untuk terus dikembangkan," ucap Fahmi.

Kendati demikian, bupati yang juga ketua MPC Pemuda Pancasila Majene ini mengakui, Pemkab Majene terkendala regulasi baru untuk peningkatan produksi perikanan tangkap yang membatasi ruang gerak kabupaten. Menurut Fahmi, dari segi regulasi kewenangan perikanan tangkap seluasnya sudah berada di provinsi, termasuk dalam pembuatan kapal. 

"Kabupaten dibatasi 0 sampai 5 GT kemudian di atas 5 sampai 15 GT kewenangan provinsi serta 15 GT ke atas kewenangan pusat. Maka peluang untuk membesarkan sektor perikanan hanya perikanan budidaya, termasuk budidaya laut pesisir," ucap Ketua DPW PPP Sulbar ini.

Di kesempatan ini, Bupati Fahmi juga meminta agar semua pihak terkhusus Dinas Kelautan dan Perikanan Majene terus melakukan proteksi potensi perikanan yang ada. Salah satunya yang disorot mantan camat Banggae Timur ini adalah telur ikan Tuing tuing (ikan terbang) yang masih marak diburu banyak orang.

Kata dia, populasi ikan terbang atau yang dikenal ikan Tuing tuing ini akan terus menurun jika terus dibiarkan perburuan telur ikan endemik Majene itu. Padahal, potensi ikan tersebut telah terbukti banyak membawa manfaat pada penguatan ekonomi nelayan pesisir serta berkontribusi menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Majene, Ichwanti yang dihubungi terpisah menegaskan, pihaknya terus berupaya agar penangkapan ikan dilakukan secara arif dan bijaksana. Salah satunya ia melarang penangkapan menggunakan pukat yang dapat menjaring ikan-ikan berukuran kecil.

"Kita sudah ada himbauan, termasuk pelarangan ambil telur ikan Tuing tuing itu. Tapi namanya pengawasan kita memang belum ini, belum maksimal,"aku Ichwanti.

Kadis Ichwanti tak menafik masih kerap ditemukan adanya warga mengambil dan mengeringkan telur ikan. Namun pihaknya terus berupaya agar perburuan telur ikan dihentikan karena berpotensi menghabisi populasi ikan di perairan Majene.

"Kami juga larang penangkapan pakai jala yang memang diameternya kecil," tegasnya. (har/red)

comments