-->

Pengakuan Seorang Anggota Panwascam di Majene, Diduga Dilecehkan Oknum Anggota Dewan

On Thursday, November 12, 2020

MASALEMBO.COM

Ilustrasi (inet)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Seorang anggota Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) berinisial J diduga mengalami pelecehan dan tindakan tidak menyenangkan dari seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Kejadian pada 7 Nopember lalu saat dia memantau sebuah kegiatan pemuda di Kecamatan Sendana.

"Saat itu ada kegiatan di Villa Inna Somba, saya sedang bertugas mengawas," kata anggota Panwascam perempuan itu, Rabu (11/11/2020)

Dia menceritakan, kala itu ada kegiatan perlombaan game online rally fury yang dicurigai disponsori oleh salah satu pasangan calon (Paslon) Pilkada Kabupaten Majene. Anggota Panwascam Sendana ini datang ke lokasi kegiatan untuk mengawas karena salah satu player game online tersebut mengenakan kostum bertuliskan nama paslon.

"Kami kesana untuk mengkonfirmasi ke panitianya," ujarnya.

Dikatakan, kehadiran dirinya pada kegiatan itu merujuk pada Pasal 88C PKPU Nomor 13 Tahun 2020. Dimana paslon dilarang melakukan perlombaan. Ia dan rekannya ingin mengkonfirmasi langsung ke panitia ihwal lomba rally fury tersebut.

"Awalnya kegiatan ini ditemukan oleh PKD (Panwas Kelurahan dan Desa), kami kesana ingin konfirmasi apa betul ini disponsori oleh pasangan calon atau bukan, karena kalau disponsori pasangan calon jelas itu tidak dibolehkan," ujarnya.

Menurutnya, kerja Panwas bukanlah hanya melakukan penindakan tetapi berusaha secara persuasif melakukan pencegahan. "Jadi ini salah satu upaya pencegahan yang dilakukan," katanya. Sayangnya, saat berada di lokasi ia mala menemui tindakan tak mengenakkan dari seorang oknum anggota dewan.

Kronologi kejadian tak mengenakkan itu bermula saat dirinya menerima informasi seorang calon wakil bupati akan berkunjung ke lokasi pertandingan game online. Mereka meminta panitia agar tak mendatangkan calon wakil bupati tersebut.

"Kami sampaikan jangan sampai kegiatan ini disusupi oleh paslon."

Entah berselang beberapa menit kemudian, seorang oknum anggota DPRD berinisial R datang ke lokasi. Ketika dia tiba ia langsung protes ke Panwascam, bahkan seorang anggota Panwascam yang menemuinya malah dibentak.

"Pas dia (anggota dewan itu) bicara dengan rekan saya, pak Burhanuddin, nadanya sudah keras, jadi saya juga kesana, saya bilang kenapa pak, dia bilang kenapa paslon mau mularang-larang kesini."

"Saya bilang kalau bapak bersikeras mau datangkan paslon otomatis akan memperkuat kecurigaan awal kami bahwa kegiatan ini disponsori paslon," ujarnya.

Celakanya oknum anggota dewan bukannya merima penjelasan Panwascam malah semakin naik pitam. Berulang kali menunjuki anggota Panwascam dan PKD Sendana yang hadir sambil marah-marah. "Dia bilang kalian lebay, terlalu kaku memaknai aturan," ujar J menirukan ucapan oknum anggota DPRD tersebut.

Oknum dewan terus bersikeras bahwa calon wabup yang mau datang bukan untuk berkampanye namun sebagai tokoh pemuda. Panwascam sendiri melihat berbeda karena status paslon yang melekat padanya. "Memang beliau tokoh pemuda tapi sekarang statusnya masih paslon, jadi kalau kami menanggapinya dia sekang paslon bukan lagi tokoh pemuda," ujar J, anggota Panwascam Sendana perempuan satu-satunya itu.

Meski Panwascam sudah menjelaskan, namun oknum anggota dewan tak henti memaki. "Dia bilang ah lebaihki, terlalu kaku membaca regulasi, bahkan dia tuding kami tidak netral," ujar J lagi.

Oknum dewan bahkan sempat menanyakan identitas Panwascam. Mereka (Panwascam) lalu memperlihatkan masker berlogo Bawaslu namun tak memuaskan baginya. Saat itu, J juga mencoba mengeluarkan pin berlogo Bawaslu dari dalam tas miliknya.

"Dia tanya mana identitasmu, saya langsung jawab ada pin dalam tas, karena memang saat itu pin saya terlepas dan saya simpan dalam tas," ujarnya.

"Dia bilang mana, ambil," anggota Panwascam inisial J lalu mencari pin tersebut dalam tas namun butuh waktu untuk menemukannya.

"Dia tanya lagi mana, saya jawab di tas, langsung dia bilang apa di tas, kutang, pasang," kisah J menirukan ucapan kurang elok anggota DPRD Majene berinisial R itu.

Anggota Panwascam mengaku tak tahu pasti apa maksud dari perkataan oknum anggota dewan tersebut, apakah mengejek atau lepas kontrol sebab amarahnya yang mulai memuncak. "Yang jelas dia bilang apa, kutang, pasang. Saya ndak tahu apa yang dia minta saya pasang, pin atau apa," ujar J menceritakan.

Terkait peristiwa ini, Bawaslu Majene akan membawanya ke ranah hukum. Dugaan pelecehan oleh oknum dewan pada saat anggota Panwascam perempuan sedang menjalankan tugas dinilai tak etis dan melanggar hukum pemilu.

Komisioner Bawaslu Majene Indriana Mustapa mengaku sangat menyayangkan dengan perkataan tak senonoh oleh oknum wakil rakyat tersebut. Semestinya kata Indri, mereka yang lebih tahu dan menjaga aturan untuk dilaksanakan. Sayang kata Indriana, ternyata oknum dewan yang cenderung melanggar dan tidak beretika di masyarakat.

"Meski pelecahan bentuk kata-kata, tapi sekalipun demikian saya selaku penyelenggara perempuan tidak menerima perlakuan ini, Bawaslu rencana akan melanjutkan kasus ini ke proses hukum," ujarnya.

Menurut Indri, perlakuan anggota dewan ini dinilai tidak hanya pelecahan kepada perempuan, tetapi penghinaan terhadap lembaga pemerintahan Badan Pengawas Pemilu yang ada di Kabupaten Majene.

"Kami Bawaslu Majene mengutuk perlakuan tak senonoh ini. Kami akan lanjutkan ke proses hukum," ujarnya.

Indriana mengaku, sudah membawa kasus ini dalam rapat Gakkumdu, dan hari ini melengkapi bukti-bukti dari hasil LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) dan rekaman kejadian tersebut. (ar/red)



comments
close
Banner iklan disini