Maulid Nabi di Salabose, Akulturasi Agama-Budaya di Tanah Mandar

On Sabtu, November 09, 2019

MASALEMBO.COM

Benda pusaka diarak ke panggung pada ritual penyucian benda pusaka di acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Salabose. (Egi/masalembo.com)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi dirayakan dengan berbagai tradisi di berbagai daerah dan negara di dunia. Suka cita, akulturasi agama dan budaya sangat kental terasa dalam perayaan tersebut.

Seperti halnya di Salabose, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Maulid Nabi dirangkaikan dengan penyucian benda-benda pusaka. Benda pusaka peninggalan kerajaan Banggae dan pusaka seorang penyebar Islam bernama Syekh Abdul Mannan.

Pada Maulid Nabi Muhammad hari ini, Sabtu (9/11/2019), tiga benda pusaka itu kembali dibersihkan. Benda pusaka sebuah muzhab kitab suci Al Qur'an peninggalan Syekh Abdul Mannan, bendera kerajaan Banggae bernama "I Macang" dan sebuah keris pusaka peninggalan Tomakaka (raja) di Poralle (Salabose). 

Benda-benda pusaka itu diarak ke panggung untuk prosesi penyucian, diiringi tarian dan musik tradisional yang khas.

Bupati Majene Fahmi Massiara mengatakan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Salobose memang sangat berbeda di daerah lain. Ia menjelaskan Maulid di Salobose telah diilhami oleh semangat Syekh Abdul Mannan, penyebar Islam pertama di tanah Mandar, Sulawesi Barat.

"Suasana ini sangat bagus dan menjadi sebuah icon di Sulawesi Barat," kata Fahmi saat menyampaikan sambutan.

Fahmi mengatakan event ini diharapkan menjadi simbol bahwa Majene adalah kota religius. Kedepan harap Fahmi, peringatan Maulid di Salabose dapat menjadi ajang pariwisata keagamaan yang makin ramai dikunjungi.

Sementara itu, akademi dan sejarawan Islam asal Majene, Nursalim Ismail mengatakan, Maulid di Salabose tidaklah berdiri sendiri. Menurutnya, dibalik peringatan Maulid sebagai syiar Islam tersebut ada nuansa kebudayaan yang kental. Karena itu kata Nursalim, memahami Islam di Mandar khususnya di Majene tak bisa dilakukan tanpa mengikutkan budaya sebagai bagian tak terpisahkan.

"Islam di tanah Mandar ini jangan pernah dibaca sebagai sebuah bacaan yang berdiri sendiri. Kita membaca Islam di Mandar ini juga sekaligus harus membaca budayanya. Kapan kita tidak punya bacaan sedikit saja tentang budaya, agak repot membaca Islam yang ada di Mandar," tutur Nursalim.

Akademisi dan penceramah asal Baruga ini menjelaskan, akulturasi agama-budaya di tanah Mandar merupakan jalan kompromi yang harus dipahami secara utuh. Termasuk ritual penyucian benda pusaka dalam peringatan Maulid, itu sangatlah penting untuk tetap dilestarikan.

"Jadi seperti itulah ruang kompromi budaya dan agama di Mandar khsusnya di Majene," ucapnya.

Salabose sendiri, adalah daerah di puncak sebuah bukit (buttu) di dalam kota Majene. Di tempat ini pula terdapat makam Syekh Abdul Mannan yang menyebar Islam di abad ke-17.

Salabose secara administratif masuk dalam wilayah Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene. Ritual Maulid di daerah ini biasanya diawali dengan khataman Al-Qur'an. Selain itu, keunikan dari Mauld ini dapat dilihat dari pernak-pernik hiasan galuga atau tiriq. Tiriq adalah tempat menancapkan batangan kayu yang dihias dan ujungnya dipasang telur ayam yang telah direbus. Tiriq biasanya dibuat dengan berbagai bentuk seperti rumah, lemari, hingga pesawat.

Pertunjukkan yang menarik adalah ketika masyarakat saling berebut telur dan songkolo (beras ketan) yang diberi hiasan dan berwarna warni. 

Sebelum tahun 60 an puncak perayaan Maulid di Salabose masih diadakan di masjid. Namun karena semakin ramai maka digelar di samping masjid di tempat yang lebih luas. (har/red)

comments