Ini Alasan MUI Malunda Tolak Pembanguan Mushola Salafi

On Senin, Januari 27, 2020

MASALEMBO.COM


Surat penolakan pembangunan Mushola Salafi oleh MUI Kecamatan Malunda. (Ist/facebook)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat mengeluarkan surat pernyataan penolakan pembangunan sebuah Mushola. Mushola dimaksud adalah milik Organisasi Masyarakat (Ormas) Salafi.

Surat penolakan MUI Kecamatan Malunda itu sempat beredar di media sosial pada Minggu, 26 Januari 2020. Dalam surat yang ditujukan kepada Camat setempat, MUI Malunda berdalih pembangunan Mushola Salafi tersebut tidak memenuhi persyaratan. Selain itu, rumah ibadah tersebut sangat menganggu ketertiban, keamanan, persaudaraan dan kerukunan. Alasan penolakan lainnya sebab pembangunan Mushola itu dituding tidak menghargai tradisi keagamaan yang selama ini dilakukan warga. MUI Malunda juga menulis, aqidah yang mereka ajarkan tidak sesuai dengan aqidah kami.

Dikonfirmasi, Sekretaris MUI Kecamatan Malunda H Ahmad Jawas membenarkan surat penolakan itu. "Iya betul, betul memang ada surat itu," ucap Ahmad Jawas, Senin (27/1/2020).

Ahmad Jawas menjelaskan, surat penolakan Mushola di Kelurahan Malunda adalah usulan dari masyarakat setempat. Ia mengaku, telah berdiskusi dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama sebelum membuat surat penolakan itu kepada camat.

"Kami bincang-bincang, di masjid kami juga ketemu bicarakan soal itu. Bahwa ada masjid dibangun tanpa izin," ucap Ahmad melalui sambungan telepon.

Ahmad Jawas sudah mengkonfirmasi keberbagai pihak baik kepada kelurahan, KUA dan pihak-pihak terkait lainnya namun izin pembangunan Mushola Salafi di Malunda tidak ada. "Jadi kita sudah sampaikan, kita menginginkan supaya ada semacam, secara resmi," ucap Jawas.

Masih kata Ahmad, awal surat penolakan bermula dari bincang-bincang tokoh masyarakat. Dirinya selaku Sekretaris MUI kecamatan lalu menyampaikan kepada ketua MUI Malunda agar disikapi secara kelembagaan. "Kami konfirmasi kepada ketua, ternyata beliau meng-iya-kan, iya daripada tidak ada kopnya, kita buat saja kopnya MUI, ini kan usulan dari masyarakat," ucap Ahmad.

Ahmad mengatakan, lokasi pembangunan Mushola masih berada di Kelurahan Malunda. Namun, letaknya agak jauh dari pemukiman warga. Mushola tersebut sudah terbangun meski awalnya sudah disoroti warga.

Ahamd Jawas juga membeberkan bahwa, apa yang diajarkan oleh kelompok Salafi di sana bertentangan dengan yang dijalankan warga selama ini. Termasuk yang Ahmad ajarkan di sekolah. "Kebulan saya ini dari DDI iya apa yang kami ajarkan di sekolah berbeda. Kelompok mereka itu Salafi, dalam artian wahabi," ucap Jawas.

Jawas mengaku menghawatirkan adanya tindakan-tindakan dari masyarakat terhadap keberadaan kelompok tersebut. Karenanya ia berharap agar disikapi pemerintah setempat.

"Jadi kita ini mau melihat bagaimana baiknya. Untuk itu kita sampaikan kepada pemerintah kecamatan dulu," ucap Jawas.



Menyaol itu, Camat Malunda Salahuddin mengaku sudah menerima surat MUI. Camat Salahuddin dan pegawai kecamatan sedang membahas surat tersebut. Ia juga mengungkap harapan MUI agar Mushola Salafi di Malunda dihentikan pembangunannya serta kegiatan-kegiatan lainnya dari kelompok Salafi.

"Saya dengar informasi, kaya ada pengajian-pengajian mereka, itu juga diharapkan dihentikan," ungkap Camat.

Langkah yang diambil Pemerintah Kecamatan Malunda kata Salahuddin, yakni sudah bertemu dengan salah satu pengurus organisasi Salafi. Mereka (pengurus Salafi) sudah kordinasi dengan Kemenang dan KUA Kabupaten Majene.

"Jadi tadi malam mereka rubah, bukan pembangunan Mushola lagi, tapi pembangunan Yayasan," ucap Camat. 

Meski demikian, Camat Salahuddin belum berani memberikan tandatangan untuk proses pembangunan Yayasan Salafi. Pihaknya lebih dulu harus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait sebelum membubuhkan tanda tangan untuk pengurusan akta penderian Yayasan Salafi di Malunda. 

"Tadi saya hubungi KUA Malunda, tolong kordinasikan cepat ke Kemenag, seperti apa," ungkap Camat. 

Sebelumnya kata Camat, sekelompok mahasiswa juga datang ke kantor kecamatan. Mereka menyampaikan hal sama penolakan pembangunan Mushallah Salafi di Malunda tersebut. (har/red)

comments