-->
https://rajaview.id/l1zfvR2Icz3Zr9hvg4vbpSO76Foy6i8uVNn6HXHq

Hot News

Lagi, Balita Gizi Buruk Tak Punya BPJS Ditemukan di Majene

On Monday, January 27, 2020

MASALEMBO.COM


Balita Muh Khalif dirawat di RSUD Majene (Ist/Masalembo.com)


MAJENE, MASALEMBO.COM - Seorang balita berumur 7 bulan diduga mengalami gizi buruk kembali ditemukan di Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Balita bernama Muh Khalif Ramadhan ini tengah dirawat di Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene dengan kondisi tubuh kurus. Meski tengah dirawat di Rumah Sakit, namun hingga kini kartu BPJS Kesehatan Muh Khalif belum tersedia. 

Ayah Khalif bernama Rajab (35) adalah seorang petani. Ibunya Sunarti (29) hanya seorang ibu rumah tangga dari keluarga kurang mampu. Mereka tinggal di Desa Banua Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene dan kerap pergi ke Palu, Sulawesi Tengah untuk mencari kerja tambahan. Meski keluarga Rajab masuk kedalam daftar penerima bantuan PKH, namun Khalif yang belum lama lahir tak punya kartu Jaminan Sosial BPJS Kesehatan. 


Sekretaris Desa Banua Sendana, Arham Arif mengatakan, Khalif ketika lahir belum sempat menerima kartu BPJS, meski keluarga Rajab sudah memiliki kartu itu dari PBI Pemerintah Kabupaten Majene. "Dia belum sempat urus Pak, karena ini PBI daerah maka saya ke Dinas Sosial tapi katanya sudah tidak ada quota," ucap Arham, Senin (27/1/2020).

Arham berharap, segera ada solusi bagi biaya pengobatan Khalif, sebab pihak Rumah Sakit menunggu 1x34 jam untuk mengklaim biaya pengobatan pasien. "Kalau mau urus yang mandiri itu dua minggu lagi Pak baru bisa aktif BPJS," ucap Arham.

Kepala Desa Banua Sendana, Ruslan, yang dikonfirmasi terkait balita ini mengatakan siap mendampingi pengobatan Khalif. Meski demikian, Kades Ruslan berharap agar Pemerintah Kabupaten Majene ikut memberikan perhatian terhadap kondisi balita tersebut. 

"Kendala dihadapi sekarang di RSUD adalah tidak ada jaminan kesehatan karena kuota BPJS tidak tersedia. Kami Pemdes bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan jika tidak ada perhatian dari kabupaten," kata Ruslan melalui pesan elektronik, Senin.




Menurut Ruslan, balita Khalif oleh dokter di RSUD Majene tidak mengalami gizi buruk, namun ia sudah masuk kategori kurang gizi.

"Pihak Rumah Sakit bilang ini bukan gizi buruk tapi diare, dehidrasi dan kurang gizi," ucap Ruslan.

Ruslan lalu menceritakan ihwal Muh Khalif. Ketika ditemukan oleh petugas gizi pada 22 Januari 2020 lalu berat badan balita itu hanya 4,5 kilogram. Tinggi badannya 62 centimeter. Padahal saat lahir di Palu tujuh bulan yang lalu, berat badan Khalif saat itu dalam kondisi normal 3 kilogram. 

"Dia lahir dalam kondisi normal dengan ditolong oleh dukun sekaligus mertua dari Sunarti, ibu Khalif," jelasnya.

Soal kenapa kelahiran Khalif di Palu, Sekretaris Desa Banua Sendana Arham Arif mengatakan jika saat itu ibu Sunarti sedang ikut suaminya yang bekerja di Sulteng. Memang, ayah Khalif (Rajab) berasal dari Sulawesi Tengah namun kini menjadi penduduk Desa Banua Sendana setelah menikah dengan Sunarti dan pindah penduduk. Khalif sendiri adalah putra keempat dari pasangan suami istri ini. Khalif terlahir di Palu namun ia dibawa ibunya ke Sendana 10 hari usai dilahirkan.

Sementara itu, melihat gambar kondisi tubuh Muh Khalif, Ahli Gizi dari Akademi Gizi Bandung Sitti Hikmawatty mengatakan balita tersebut sudah tidak normal dan masuk kategori gizi buruk. Jika dilihat dari postur tubuhnya kata Hikma, maka dengan melihat berat badan dengan menganalisa umur balita Khalif sudah masuk kategori gizi buruk. 


Hikmawatty menjelaskan salah satu indikator yang ia digunakan adalah Indeks Masa Tumbuh (IMT). Dalam IMT ada perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan, kemudian dibandingkan tinggi badan dengan usia anak. "Anak yang usia satu tahun, itu berdasarkan usia harus minimal tiga kali dari berat badan lahir, jadi kalau dia lahir tiga kilo ya satu tahun itu paling minimal dia sudah sembilan kilo," ucap Hikmawatty.

"Jadi kalau saya melihat balita itu dia sudah gizi buruk, berat badannya mestinya minimal sudah dua kali lipat berat lahirnya karena dia sudah tujuh bulan," ucap ahli gizi yang juga Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini.

"Jika mengikuti angka perbandingan itu, maka minimal berat badan balita itu enam kilo sekarang," sambung Hikma.

Keterangan Hikmawatty sama dengan laporan Potret Gizi Buruk yang dikeluarkan petugas gizi Puskesmas Sendana I Kabupaten Majene. Dalam laporan yang diterima awak masalembo.com tersebut, tercatat Muh Khalif mengalami gizi buruk. Ia disebut menderita gizi buruk disebabkan karena pola asuh yang kurang baik dan pengetahuan dan pemahaman ibu dalam pemberian makanan bayinya. 

Muh Khalif juga masuk dalam kategori sangat pendek dan ada tanda klinis yaitu iga gambang dan daging pantatnya yang mengecil. (har/red)

comments