Tajuddin, Perantau Gesit Sukses di Kawasan Sawit

On Minggu, Desember 22, 2019

MASALEMBO.COM

Tajuddin di depan toko miliknya, ditemani Silmi Nathar, CDO PT Suryaraya Lestari. (Edison S/masalembo.com)

PASANGKAYU, MASALEMBO.COM -- Tajuddin, Lelaki perantau asal Wajo, Sulawesi Selatan. Ia melakukan usaha dan perjuangannya yang tidak sia-sia. Kini, Tajuddin dapat menikmati kesuksesannya di Desa Bulumario, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Toko bahan bangunan miliknya kini dikenal, ramai dikunjungi banyak pelanggan dan besar.

Pria ramah berusia 48 tahun ini singkat ketika bercerita tentang alasannya hijrah pada tahun 2002 ke kawasan yang kini dikenal sebagai bagian dari Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. 

"Kan dulu banyak yang bilang bahwa daerah ini bagus buat usaha, hingga saya pun awalnya sekedar ikut-ikut keluarga dan Alhamdulillah dapat dilihat perkembangan Toko saya," kata Tajuddin, Jumat (20/12-2019).

Niat Tajuddin memang satu, hendak berniaga di tempat baru. Ia membeli lahan untuk tempat tinggal, juga kebun untuk ditanami komoditas yang dinilai laku di pasaran. Seperti saudara lainnya, ia menanam jeruk dan menjual hasil panennya ke masyarakat.

Ia mulai merasakan peningkatan kesejahteraan. Usahanya tampak mendatangkan hasil. Tapi, menurutnya, lompatan besar terjadi ketika ia mengaitkan bisnisnya dengan perkebunan kelapa sawit. 

Kabupaten Mamuju (awalnya masih bagian Sulawesi Selatan), sejak akhir 90-an memang dikenal sebagai kawasan yang tengah menggeliat. Masa itu ditandai dengan kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit. Salah satunya, grup Astra Agro yang pada 1990an mendirikan PT Suryaraya Lestari di Desa Sarudu, yang saat telah mekar menjadi beberapa desa termasuk desa tempat tinggal Tajuddin.

Melihat banyak peluang keuntungan yang lebih menggiurkan, tahun 2006 ia dengan gesit mulai mengganti jenis tanaman. Ia beralih menanam kelapa sawit, tanaman yang juga ditanam tetangga-tetangganya sesama petani. "Perawatannya mudah," kata Tajuddin.

Lebih dari sekadar mudah, menurut pria lulusan sekolah dasar ini, ketertarikannya dengan kelapa sawit juga dipicu tawaran dan program Income Generating Activity (IGA) dari PT Suryaraya Lestari yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Perusahaan memberi pinjaman bibit, pelatihan dan dukungan agar para petani berhasil. 

"Saat panen, keberhasilan yang dirasakan teman-teman saya kini dapat kurasakan juga," jelas Tajuddin.

Tajuddin juga menjelaskan bahwa keuntungan itu tak langsung membuatnya foya-foya. Jiwa bisnisnya menuntun ia memutar kembali keuntungan-keuntungan itu menjadi modal usaha. Misalnya, dengan membeli lahan sehingga luasan yang ia miliki terus bertambah. Tahun 2019 ini misalnya, luasan kebun sawit miliknya tak kurang dari 5 hektar.

Selain menambahkan, saat ini usahanya makin bersinar karena ia terus melihat potensi besar dari kelapa sawit. Setelah menjadi petani, ia membuka peluang lagi dengan perusahaan. Tajuddin mengajukan pinjaman ke Lembaga Keuangan Mikro Mitra Surya Sejahtera (LKM-MSS) yang didirikan PT Suryaraya Lestari. Lembaga ini dirancang agar masyarakat semakin terbantu dari sisi finansial.

"Saya mendaftar jadi anggota LKM dan pinjam uang untuk usaha ini," ujar Tajuddin sambil menunjuk tokonya yang penuh berisi dagangan berupa bahan bangunan seperti besi-besi, kaca, kayu, dan lainnya.

Tak cuma itu, yang menurutnya sangat laku adalah barang-barang yang dibutuhkan petani sawit untuk merawat dan melancarkan operasional kebun mereka, seperti obat anti hama, mesin pompa penyemprot, mesin pemotong rumput, alat-alat panen, dsb. 

"Alhamdulillah, karena berkebun sawit tidak terlalu susah, bisa banyak waktu juga untuk jaga toko," ujar pria yang sudah dikarunia 3 anak dan tengah menanti tahun keberangkatan pergi haji ke tanah suci ini. (Eds/red)


comments