-->

Kepala BPNB Sulsel Dorong Pelestarian Budaya Adat Tuho di Ulumanda

On Sabtu, Agustus 14, 2021

MASALEMBO.COM

Kepala BPNB Sulsel Andi Syamsu Rijal (pegang mic) saat seminar budaya di gedung SDN 7 Taukong, Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda [egi/masalembo.com]


MAJENE, MASALEMBO.COM - Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan Andi Syamsu Rijal mengajak pemuda dan warga Ulumanda terus menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya adaq tuho di Ulumanda. Hal tersebut dia sampaikan saat menghadiri seminar Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Adaq Tuho di Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Jumat (13/8/2021).

"Kalau bukan teman-teman yang melestarikan, ya siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Kami datang kesini hanya memberikan dukungan," kata Andi Syamsu saat hadir di Dusun Taukong, Desa Tandeallo Jumat sore.

Syamsu Rijal menjelaskan pentingnya melestarikan budaya sebagai sebuah identitas suatu daerah. Menurutnya, budaya memiliki nilai yang mengandung kearifan yang dapat menciptakan keteraturan sosial. Ia bahkan megajak agar adaq tuho mendapat pengakuan dari pemerintah. 

"Kalau bisa adaq tuho sampai mendapat peraturan daerah (perda), agar bisa mendapat pengakuan dari negara," ujarnya.

Kepala BPNB Sulsel hadir di Taukong atas undangan seminar yang diinisiasi pengiat kebudayaan Muhammad Irfan. Ia hadir bersama sastrawan dan budayawan Mandar Bustan Basir Maras serta pengiat budaya asal Kajang, Andika Mappasomba. 

Di kesempatan tersebut Bustan Basir banyak mengulas sejarah Ulu Salu dan adaq tuho. Menurutnya, Ulumanda sebagai jalur defusi kebudayaan adaq tuho Ulu Salu kaya akan khazanah kearifan lokal. Bustan juga menjelaskan keangungan kebudayaan adaq tuho yang dia nilai sangat menjunjung tinggi humanisme.

"Nibatta bittiq tedong tappa di bittiq saping, nibatta bittiq saping tappa di bittiq beke, nibatta bittiq beke tappa di bittiq mane, nibatta bittiq mane' tappa di barang-barang. Betapa mengagumkan humanisme adaq tuho," ujar Bustan saat menyampaikan materi.

Berbicara di hadapan puluhan pemuda dan warga setempat, Bustan memberikan tips agar adaq tuho bisa direvitasasi. Menurutnya, setiap pemuda perlu mengambil peran dalam pemajuan kebudayaan. Ia mencontohkan, calon-calon sarjana atau pasca sarjana yang hendak menyusun skripsi dan tesis agar mengambil kajian budaya adaq tuho dari perfektifmanapun. 

"Misalnya yang mau sarjana pertanian agar menulis tentang sokboq, sebagai menteri pertanian di dalam adaq tuho," ujar Bustan mencontohkan.

Alumi UGM Yogyakarta ini juga mengajak pemerintah setempat agar mendukung pelestarian kebudayaan, misalnya mendukung studi dan kajian yang dilakukan oleh para pemuda dan siapapun yang tertarik meneliti budaya adaq tuho.

Sementara itu, Andika Mappasomba lebih banyak memberikan dorongan inspirasi kepada anak-anak muda peserta seminar. Ia mencontohkan Kajang yang kini terkenal seantero nusantara karena budayanya yang tetap dilestarikan. 

Menurut Andhika, kebudayaan adaq tuho yang juga memiliki perangkat, sangat mungkin untuk berkembang dan dikenal lebih luas, hanya saja perlu upaya serius memperkenalkan. Ia berharap, anak muda Tandeallo yang dianggapnya sudah mulai sadar budaya agar terus semangat. (hr/red)













comments