-->

Hot News

Pembangunan Tower Telkomsel di Desa Wale-ale, Sultra Dinilai Cacat Prosedur dan Mengancam Nyawa Manusia

On Jumat, Desember 23, 2022

MASALEMBO.COM


Pengecoran dasar pembangunan tower Telkomsel di Desa Wale-Ale, Kecamatan Tongkuno Selatan, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Foto : Muhammad Al Rajap


MUNA, MASALEMBO.COM - Pembangunan tower jaringan Telkomsel yang berada di Desa Wale-ale, Kecamatan Tongkuno Selatan, Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara dinilai cacat prosedur.

Salah satu pemuda Desa Wale-ale, Kadir Ngkilo mengungkapkan pembangunan tower jaringan Telkomsel tersebut tak hanya cacat prosedur, tapi nantinya juga bisa mengancam keselamatan jiwa masyarakat yang melintas di sekitar pembangunan tower.

Bagaimana tidak, Kadir menilai proses pengecoran dasar tower Telkomsel tersebut tidak berjalan sesuai mekanisme pengecoran-pengecoran bangunan pada umumnya. Sebab, sambung Kadir sapaan akrab Kadir Ngkilo pengecoran itu sempat dihentikan.

"Dimana mana itu yang namanya pengecoran tidak bisa diputus pengerjaannya. Baik itu 1x24 jam, 3x24 jam maupun lebih dari itu. Faktanya pada pengecoran dasar jaringan Telkomsel ini yang dimulai pagi hari sampai jam 10 malam. Besoknya baru dilanjutkan lagi pengecorannya. Itu sudah patah. Tidak dibenarkan pekerjaan seperti itu. Apalagi ini dasar," jelas Kadir belum lama ini.

Kadir yang juga memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang konstruksi bangunan ini sangat menyayangkan praktek pengerjaan yang dilakukan oleh pekerja jaringan Telkomsel di desa kelahirannya itu. Ia mengaku baru menemukan praktek pekerjaan pengecoran yang tidak tuntas yang kemudian pengecoran itu dilanjutkan pada keesokan harinya.

"Jangan mereka mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dalam proyek pekerjaan tower ini tanpa memperhatikan keselamatan masyarakat. Ini sangat fatal akibatnya. Ada banyak kasus tower yang rebah karena kelalaian pekerjaan salah satunya disebabkan oleh dasar tower yang kurang kokoh. Contohnya ya pada pekerjaan tower di Desa Wale-ale ini. Ini aneh, tapi nyata ada di depan kita," tambah Kadir.


Kadir Ngkilo


"Dari gambar yang kita peroleh, tinggi tower jaringan Telkomsel itu 72 meter. Kita ketahui bersama bahwa  tower jaringan Telkomsel itu berdiri disekitar pemukiman warga. Sekitar 30 meter dari tower itu juga ada sekolah (SD Negeri 04 Tongkuno Selatan). Kalau misalnya towernya rebah lalu mengenai anak sekolah siapa yang akan bertanggung jawab," tanya Kadir.

Tak sampai disitu, Kadir membeberkan proyek pembangunan tower jaringan Telkomsel di Desa Wale-ale itu sebelumnya tanpa dilakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat oleh pihak terkait.

"Ada banyak kejanggalan dalam pengerjaan proyek ini. Harusnya, minimal dua hari pelaksanaan pekerjaan sudah ada papan kerja berdiri. Faktanya, sampai hari ini papan kerja itu tidak ada. Ada juga beberapa pemuda yang meminta untuk kerja disitu sebagai tenaga kasar tapi ditolak. Setelah kami teliti, justru ada anak dibawah umur yang dipekerjakan disitu," ungkap Kadir.

Ketika disambangi di rumah pribadinya untuk mengonfirmasi mengenai pembangunan tower jaringan Telkomsel, Sekretaris Desa Wale-ale, La Mala tidak berada di tempat.

Ditempat terpisah, Kepala Dusun Desa Wale-ale, La Hende mengaku belum menerima informasi apapun dari pihak terkait seputar adanya pembangunan tower Telkomsel yang saat ini pengerjaannya tengah berlangsung.

"Saya selaku kepala dusun disini memang belum menerima informasi adanya pembangunan itu. Kalaupun ada pembangunan di desa, harusnya diadakan sosialisasi dulu di masyarakat agar semua tahu bahwa di desa sedang ada proyek yang akan dikerjakan," ujar La Hende saat ditemui di kediamannya.

Sementara itu, Kepala Tukang pembangunan proyek jaringan Telkomsel, Dede tak mampu menjelaskan mengapa proses pengecoran dasar jaringan yang dikerjakan dihentikan sementara. Dede bahkan langsung meninggalkan wartawan media ini saat wawancara belum selesai.

"Saya sudah minta tolong sama teman-teman yang kerja untuk dilanjutkan tapi mereka minta istirahat," kata Dede.

Penulis : Muhammad Al Rajap




 
 



comments