Napi Teroris Tolak Tanda Tangani Remisi 17 Agustus

On Sabtu, Agustus 18, 2018

MASALEMBO.COM

Napiter Chandrajaya alias Abu Yasin alias Abinya Yasin saat tiba di Lapas Polewali (dok: masalembo.com)

POLEWALI, MASALBO.COM - Seorang napi teroris (napiter) bernama Chandrajaya alias Abu Yasin alias Abinya Yasin (31) menolak menandatangani persyaratan untuk mendapatkan remisi 17 Agustus. Aasannya tidak mau tunduk dan patuh terhadap Pancasila dan UUD 1945.

Sebelumnya, pihak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Polewali telah mengusulkan nama Chandra masuk dalam daftar napi yang akan menerima remisi 17 Agustus. Namun, ia menolak menanda tangani persyaratan administrasi.

Kepala Lapas Kelas II B Polewali, Haryoto mengungkapkan, pada peringatan HUT RI ke 73 tahun 2018 sebanyak 134 orang napi yang menghuni Lapas Kelas II Polewali mendapatkan remisi 17 Agustus. Dari jumlah tersebut satu napi teroris lainnya bernama Rudi Haruna Rasyid mendaptakan remisi 3 bulan.

"Untuk mendapatkan remisi harus membuat pernyataan setia kepada NKRI, namun yang bersangkutan menolak, makanya kami tidak bisa usulkan untuk mendapat remisi," ungkap Haryoto.

Demi mengantisipasi melakukan ajaran radikalisme dalam Lapas, Chandrajaya ditempatkan di blok khusus dan tidak dicampur dengan napi lainnya. 

"Dia tersendiri ruangan bloknya karena memang karakter orangnya agak sulit diatur," ujar Kalapas.

Saat ini, Lapas Kelas II Polewali telah menerima dua napi teroris, yakni Rudi Haruna Rasyid dan Chandrajaya. Sebelumnya, keduanya telah menjalani masa hukuman di Rutan Mako Brimob Depok, Jawa Barat.

Pada bulan April tahun 2016 lalu, Rudi Haruna Rasyid telah dikirim dari rutan Mako Brimob ke Lapas Polewali. Ia telah divonis oleh hakim PN Jakarta Utara dengan pidana 7,5 tahun. Menyusul pada bulan Juli tahun 2017, Chandrajaya juga dipindahkan dari Mako Brimob ke Lapas Polewali. Chandrajata divonis 3 tahun penjara oleh PN Jakarta Timur. 

Pemindahan kedua napiter ini dengan alasan keduanya ingin dekat dengan keluarga mereka. Keduanya berasal dari Sulawesi, Cahndrajaya dari Luwu Sulsel dan Rudi Haruna Rasyid dari Palu, Sulteng. (ant/har)

comments