Pemprov Sulbar Serahkan Bendung dan Jaringan Irigasi Tandung ke Pusat

On Rabu, Agustus 15, 2018

MASALEMBO.COM

Rapat kordinasi pembangunan bendung dan irigasi D.I Tandung di Villa Bogor Majene (Egi/masalembo.com)

MAJENE, MASALEMBO.COM - Proyek pembangunan bendung dan irigasi D.I Tandung, Kabupaten Polewali Mandar bakal diserahkan ke pusat. Hal tersebut diungkap Kepala Dinas PUPR Pemprov Sulbar, Ir. H. Nasaruddin, MM di hotel Villa Bogor Majene, Rabu (15/8) usai Rapat Kordinasi Teknis Rencana Pembangunan Bendung dan Irigasi D.I Tandung.

Kepada wartawan, Nasaruddin juga mengakui, proyek bendung dan irigasi Tandung yang dikerjakan tahun 2012 telah mengalami kegagalan karena dikerjakan tidak maksimal.

"Jadi kita tahu bahwa memang belum maksimal, kita harapkan sebenarnya dulu perusahaan yang kerja yang sudah biasa kerja, ternyata yang dimenangkan bukan yang biasa kerja, akhirnya gagal, ada beberapa tahapan tidak diikuti," kata Nasaruddin.

Meski di tahun berikutnya kembali dianggarkan kata Nasaruddin, namun hal serupa kembali terjadi, pekerjaannya tidak maksimal bahkan, hingga kini belum ada hasil irigasi yang bisa dinikmati masyarakat.

Nasaruddin menuturkan, pihak Pemprov Sulbar tak lagi punya anggaran untuk melanjutkan pembangunan bendung dan irigasi ini, sehingga jalannya harus dilimpahkan ke pusat melalui Direktorat Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.

"Ini kan anggarannya besar, sehingga untuk fisiknya Pemprov tidak mampu lagi, tapi kalau pemeliharaannya bisa, nah karena dimungkinkan Undang-undang maka kita akan serahkan ke pusat," ucap Nasaruddin.

Terkait gagalnya pembangunan bendung dan irigasi D.I Tandung ini, akademisi Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Lawalenna Samang, MS, M. Eng yang turut hadir di acara ini menilai, penyebabnya adalah karena faktor timing yang tidak tepat. 

"Saya melihat ini dilaksanakan bukan tepat waktunya. Karena untuk membangun di situ (bendug Tandung, red) harusnya di bulan-bulan tertentu yaitu Agustus hingga November," katanya

Lawalenna mengatakan, mestinya kalender pembangunan bendung Tandung harus memperhatikan kondisi sungai Mandar. Ia menyebut, berdasarkan hasil studi terhadap debit air rata-rata bulanan DTH sungai Mandar, air sungai menyurut di bulan Agustus hingga Nopember.

"Jadi di bulan itu (Agustus-Nopember) pekerjaannya boleh di air, kalau di luar itu mestinya pekerjaan yang di darat. 

Guru besar Fakultas Teknk Unhas ini menyebut, pada pekerjaan sebelumnya, kontraktor tidak memperhatkan timing sehingga bendung Tandung sulit dimaksimalkan. "Nah saya liat dulu itu dikerjakan tidak memperhatiakan timingnya," ucap Lawalenna.

Selain itu, dia juga melihat ada masalah administrasi yang keliru dalam pelaksanaan proyek ini.

Rapat Kordinasi Teknis Rencana Pembangunan Bendung dan Irigasi D.I Tandung di Villa Bogor Majene, turut dihadiri sejumlah pejabat Pemkab Polman dan Majene. Selain itu, Camat Tinambung dan Banggae juga hadir dalam kesempatan ini. (har/red)

comments