Kehadiran Remaja Putri Muhammadiyah di Tengah Anak-anak Stunting

On Senin, September 24, 2018

MASALEMBO.COM

Sejumlah kader Nasyiatul Aisyiyah Mamuju mengunjungi Hendrik dan keluarga (harmegi amin/masalembo.com)

MAMUJU, MASALEMBO.COM - Sebagai organisasi sosial yang menghimpun remaja putri Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah (NA) terus bergerak di tengah berbagai problem sosial. Salah satu yang menjadi fokus perhatian organisasi perempuan gagasan Somodirdjo ini adalah balita penderita stunting atau kekurangan gizi.

Isu stunting sesungguhnya telah menjadi bahan diskusi kalangan internal Nasyiatul Aisyiyah sejak 2017. Bahkan organisasi ini telah mengusung sebuah misi nasional zero stunting.

"Ini adalah amanat dari Tanwir di Banjarmasin, zero stanting ini adalah gerakan pemenuhan gizi nasional pada perempuan dan anak-anak," kata Idawati Musyawarah, Ketua Pimpinan Wilayah NA Provinsi Sulbar.

Wawancara media ini dengan Idawati, berkenaan dengan tiga balita penderita gizi buruk di Mamuju yang kini dalam pendampingan Nasyiatul Aisyiah. Mereka adalah Saparuddin dan dua kakaknya, Hendrik dan keluarga dan satu lagi balita penyandang gizi kronis di Kalubibing.

"Kami melakukan pendampingan ini, karena Sulbar menurut data sangat tinggi stunting, tertinggi kedua di Indonesia," ucap Ida, Minggu (23/9) sore

Ia menuturkan, pihaknya tengah memberikan perhatian pada setidaknya tiga keluarga anak penderita stunting dan gizi buruk saat ini. Yang satu adalah Saparuddin di Simboro, kemudian Hendrik di Salletto, satu lagi di Kalubibing.

Baca: Menderita Gizi Buruk Hendrik Tak Punya Kartu BPJS

Memang, kehadiran Nasyiatul Aisyiah di tengah anak-anak penderita stunting bak angin semilir yang mengabarkan pengharapan. Seperti Saparuddin yang dulu ditolak rumah sakit karena tak punya kartu BPJS, kini bisa mendapat perawatan usai menerima kartu sakral itu. Kehadiran Nasyiatul Aisyiah-lah yang membantu mendapatkan kartu tersebut.

Untuk diketahui, Saparuddin balita yang tinggal di Simboro, tak punya banyak hal untuk pemenuhan gizi. Ibunya tak bekerja, ayahnya entah kemana, dia tak kunjung pulang saat pergi ketika Saparuddin masih dalam kandungan.

Ketua Pimpinan NA Sulawesi Barat, Idawati Musyawarah berkomitmen untuk mendampingi Saparuddin maupun keluarga, agar anak tersebut tak dibiarkan dalam krisis pemenuhan gizi. Bahkan satu kakak perempuan Saparuddin, rencananya akan dibawa ke panti asuhan putri Muhammadiyah.

Mengunjungi Hendrik

Sore ini, Minggu (23/9) satu mobil jenis avanza warna hitam melaju ke arah Selatan meninggalkan kota Mamuju. Wartawan media ini mengikuti dari belakang pergerakan mobil tersebut. Tak lama, sampailah di lokasi tujuan setelah beberapa kali singgah, bahkan memutar karena arah ke Dusun Saluleang terlewati. Daerah tersebut tak jauh dari poros Trans Sulawesi desa Salletto.



Seperti tampak dalam video di atas. Nasib malang dialami seorang balita (2 tahun lebih) bernama Hendrik. Semestinya ia sudah mampu berjalan lainknya anak-anak seusia, tapi kondisi tubuh Hendrik yang lemah tak memungkinkan untuk berdiri tegak dan berjalan normal.

Tentang balita ini, Ia terlahir sebagai putra ketiga Rubiana (30) dan Mustari (28). Namun sejak lahir, Hendrik divonis mengalami gizi buruk. 

Warga Dusun Saluleang, Desa Saletto, Kabupaten Mamuju ini sejatinya mampu berjalan dan juga berbicara. Namun yang tampak dia hanya bisa terdiam, duduk. Tulang belakangnya terlihat bengkok kala didudukkan. Tak jarang ia merintih seperti kesakitan. 

Baca juga: Gizi Buruk, Ancaman Serius Masa Depan Sulawesi Barat

"Dulu pernah saya bawa ke rumah sakit, satu minggu dirawat di sana," kata Rubiana kepada rombongan Nasiyatul Aisyiah yang mengunjungi mereka, Minggu sore.

Nasyiatul Aisyiah menggandeng Lazismu telah menyerahkan sejumlah paket makana tambahan dan susu untuk Hendrik. Serupa dengan Saparuddin, Hendrik juga mengalami gizi buruk dan ditinggal pergi oleh ayahnya. (har/red)

comments