Makna Hari Guru bagi Zahrah, Pengajar Muda Asal Mamuju

On Minggu, November 25, 2018

MASALEMBO.COM

St. Zahrah (ist)

MAMUJU, MASALEMBO.COM - Peringatan Hari Guru 25 Nopember ternyata punya makna tersendiri bagi St. Zahrah, gadis Mamuju yang kini mengajar nun jauh ke Maluku Utara sana. Ia meyakini bahwa antara guru dan perjuangan tak bisa dipisahkan. Karena itu guru adalah pejuang dan sejatinya semua orang terdidik menjadi pendidik (guru), entah dengan cara mereka masing-masing.

"Itu menurut saya, guru itu bukan hanya yang ada di sekolah, guru itu adalah kita semua," ucapnya pada awak media ini, Sabtu (24/11) malam.

Gadis kelahiran Desa Botteng, 18 Desember 1993 ini menuturkan, guru adalah orang-orang yang mendidik dan mengajarkan kebaikan, orang tua di rumah dan orang-orang terdidik di masyarakat. "Karena itu untuk memperbaiki pendidikan tidak mesti harus guru di sekolah," katanya

Atas dasar berpikir itulah, St Zahrah bertekad menjadi pengajar. Dan melalui program Indonesia Mengajar (IM), niat lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini jadi guru kini terbayar. Ia menjadi satu dari 48 orang sarjana yang terpilih mengabdi untuk pendidikan sebagai pengajar muda IM angkatan XVII dan ditempatkan di Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara.
Sebelumnya, Zahrah mengikuti serangkaian seleksi, mulai pengiriman essay, psikotes hingga tes mengajar dan wawancara. Ia berhasil menyingkirkan 10 ribu lebih pendaftar di program ini. Saat ini ia berada di Desa Buya, Kecamatan Mongoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Selama setahun, Zahrah ia hadir menjadi guru di pelosok Maluku itu.

Melalui sambungan telpon, Zahrah mengaku, meski harus meninggalkan pekerjaan adalah resiko yang harus dia ambil, namun keyakinannya lewat gerakan pendidikan yang digagas oleh Anies Baswedan beberapa tahun lalu ini setidaknya mampu mewarnai gerakan perubahan di dunia pendidikan Indonesia.
Indonesia Mengajar kata dia, tidak berambisi hadir sebagai solusi yang menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia. Namun kehadiran mereka sebagai guru akan ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah pelosok yang menjadi sasaran gerakan IM.

"Sebenarnya kalau mau mikir-mikir buat apa jauh-jauh ke sini kalau kerja di tempat kemarin gajinya sudah lumayan, tapi kenapa harus memilih ini, mungkin dari hati karena memang saya dari dulu suka melakukan kegiatan-kegiatan di daerah apalagi dunia pendidikan," ucapnya.

Selain itu, dirinya percaya jauh-jauh datang ke Maluku Utara adalah proses latihan kepemimpinan. Baginya itulah perjuangan untuk seorang pembelajar yang sedang belajar.

"Saya mau mengembangkan diri, mau memperbaiki diri dari segi kepemimpinan," tuturnya.

Melalui wartawan masalembo.com, Zarah menitip salam untuk seluruh guru Indonesia khususnya guru di Sulawesi Barat. "Selamat hari guru, semoga pendidikan Sulbar makin maju, guru-gurunya komitmen pada pendidikan," harap alumni MAN Mamuju ini.  (har/red)

comments