Ratusan Hektar Sawah di Mamuju Dilanda Kekeringan

On Sabtu, Agustus 31, 2019

MASALEMBO.COM

Hamparan sawah di Desa Beruberu Kalukku mengering akibat musim kemarau berkepanjangan (Awal S/masalembo.com)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat berdampak buruk terhadap ratusan hektar sawah di Desa Beruberu Kecamatan Kalukku. Ratusan hektar sawah di desa itu mengalami kekeringan.

Akibatnya, para petani terpaksa menunda masa tanam padi. Mereka bahkan mengeluh karena tak dapat mengelolah sawah seperti biasa. 

"Biasanya dalam setahun bisa panen tiga kali tapi tahun ini gagal," ujar Kasmin, salah satu petani setempat, Sabtu (31/8/2019).

Kasmin, mengaku, hanya mengandalkan air tadah hujan dan sumor bor untuk mengairi sawah miliknya. Namun tahun ini tak mendapat air bor apalagi air hujan. Akhirnya ia terpaksa memutar otak untuk menafkahi keluarganya dengan bekerja serabutan. 

Selain Kasmin, dampak kemarau panjang juga dialami Riswan. Jika sehari-hari ia membawa pabrik padi keliling dari kampung ke kampung menggunakan mobil pick up. Namun tahun ini Riswan kehilangan penghasilan dari usaha itu lantaran hasil panen petani nihil. "Penghasilannya tidak ada karena tidak ada warga yang mempabrik padinya. Kita capek saja keliling," ucapnya kepada awak masalembo.com

Kepala Desa Beruberu Asnawi mengaku, kemarau panjang tahun ini berdampak pada sekitar 900 hektar lebih sawah di desanya. Warga lebih memilih menanam jangka pendek sebagai pengganti padi di sawah mereka. Tanaman pengganti itu, seperti jagung dan ubi jalar.

"Ini inisiatif masyarakat memilih menanam ubi jalar dan jagung sebagai pengganti padi," ucap Asnawi.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia termasuk Mamuju masih akan terjadi hingga November 2019. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di September 2019. (awl/har)

comments