Analis Ekonomi: Wajah Sulbar Tak Banyak Berubah Dibandingkan Saat Masih Sulsel

On Minggu, September 22, 2019

MASALEMBO.COM

Syarkawi Rauf (inet)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Genap berusia 15 tahun pada 22 September 2019 hari ini, pengamat dan analis ekonomi Syarkawi Rauf menilai Provinsi Sulawesi Barat tak banyak berubah. Bahkan, wajah Sulbar tak mengalami kemajuan signifikan dibandingkan ketika masih dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan. 

Menurut Syarkawi, indikator-indikator kemajuan daerah eks Afdeling Mandar ini tak tampak signifikan. Ia mengatakan, indikator yang paling sederhana dapat liat adalah Human Development Index (HDI) atau yang lebih dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 

"Kalau kita periksa data BPS, Sulbar selalu di bawah, artinya yang menjadi komponen utama IPM (pendidikan, kesehatan dan standar layak hidup) Sulbar selalu terendah," kata Syarwaki, Sabtu (21/9/2019).

Baca: Genap 15 Tahun, Angka Harapan Hidup Sulbar Masih yang Terendah

Analis ekonomi lulusan Universitas Hasanuddin Makassar ini mejelaskan, tiga komponen utama IPM Sulbar masih menjadi PR besar yang harus diselesaikan pemerintah daerah, baik gubernur maupun bupati enam kabupaten di daerah ini. 

"Di mana-mana perbedaan daerah yang maju dengan yang terbelakang adalah di kepemimpin. Itu bukan saya yang bilang, ahli kepemimpinan yang bilang bahwa antara daerah maju dan daerah terbelakang perbedaannya ya di manajemen. Tata kelola yang baik makanya maju. Yang undermenej tidak dikelola dengan baik maka dia terbelakang," ucap mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia ini.

Syarkawi menyoroti Angka Harapan Hidup (AHH) di Sulbar yang selalu di urutan paling bawah dari semua provinsi di Indonesia. Kata dia, AHH hanya bisa diperbaiki dengan sistem managerial pemerintah yang baik. "Salah satu faktor utama ialah ledearship atau kepempimpinan. Jadi baik bupati maupun gubernurnya yang harus diperbaiki adalah managemennya," ucap pakar ekonomi asal tanah Mandar ini.

Syarkawi juga mengatakan, angka partisifasi sekolah di Sulbar relatif rendah, lama sekolah singkat, sehingga angkatan kerja rata-rata masih alumni SD dan SMP. "Kalau yang SMA itu sangat kecil persentasenya, apalagi yang universitas. Dengan situasi seperti ini pasti IPM-nya buruk," ucap Leader of the Economic and Business Studies di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Syarkawi berharap, Pemerintah Sulbar seharusnya fokus pada pengembangan potensi unggulan daerah. Dia menyebut pertanian dan kelautan adalah salah satu potensi Sulbar yang belum terkelola baik. "Di Sulbar kan kemiskinannya banyak, penduduk miskin, tapi itu adanya di daerah pertanian dan perikanan, padahal itu potensi, pencaharian utama masyarakat pertanian dan kelautan," ucap Syarkawi. (har/red)


comments