Desa Ini Jadi Percontohan, Wabup Himbau Warga Hindari Pernikahan Dini

On Kamis, Oktober 31, 2019

MASALEMBO.COM

Wakil bupati Mamuju Irwan SP Pababari menyampaikan sambutan di acara sosialisasi dan advokasi KKBPK di Desa Kalukku Barat. (Foto: Humas Setda Mamuju)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Desa Kalukku Barat, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju terpilih menjadi satu dari enam daerah percontohan desa layak anak di Provinsi Sulawesi Barat. Mendukung penobatan terebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulbar bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berenca (PPKB) Kabupaten Mamuju menggelar sosialisasi dan advokasi, Selasa (29/10/2019).

Sosialisasi dan advokasi program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) ini mengambil tema ‘Hindari Kawin Muda untuk Mencegah Stunting', digelar di lapangan sepak bola Desa Kalukku Barat.

Wakil Bupati Mamuju, H. Irwan SP. Pababari hadir membuka kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pemerintah dan masyarakat desa Kalukku Barat mesti berbangga, daerahnya terpilih menjadi percontohan. Namun, hal tersebut juga merupakan tantangan tersendri bagi Kalukku Barat yang mesti menjadi contoh bagi daerah lain, utamanya dalam menghindari perkawinan usia anak seperti tema kegiatan. 

Dari itu, Irwan berharap, sosialisasi dan advokasi KKBPK tidak hanya berakhir pada acara seremonial, namun dapat dilanjutkan sampai ke rumah-rumah warga.

“Ini kebanggaan tapi juga tantangan, desa ini mesti menjadi contoh dalam menghindari perkawinan muda juga menjadi keluarga yang berencana. Saya kira sosialisasi jangan hanya sampai di sini, namun mesti dilakukan kesetiap rumah tangga yang ada di desa Kalukku Barat bahkan hingga satu kecamatan Kalukku harus mengetahui dampak pernikahan usia anak dan resiko stunting,” himbau wakil bupati.

Dalam sosialisasi dan advokasi KKBPK di Kalukku Barat itu, turut hadir Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN Pusat Eka Sulistia Ediningsih. Pada kesempatannya, Eka menyampaikan hal yang sama bahwa Desa Kalukku Barat punya tantangan berat sebagai desa percontohan. Semua hal di desanya harus bagus.

Bicara soal KB, Eka menyampaikan ada empat hal yang menjadi fokus, yaitu pendewasaan usia perkawinan yakni perempuan minimal usia 21 tahun dan laki-laki usia 25 tahun, kedua pengaturan kelahiran minimal 3 tahun, lalu ketiga peningkatan ketahanan keluarga melalui BKB, BKR dan BKL. Terakhir, pemberdayaan ekonomi keluarga.

Direktur BKR ini mengajak masyarakat Kalukku Barat untuk berupaya melakukan pembangunan manusia mulai dadi dalam keluarga. (rls/red)


comments