Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Perempuan dan Anak di Mamasa

On Selasa, Desember 10, 2019

MASALEMBO.COM

Aksi perempuan dan mahasiswa Mamasa/Frendy Criatian.


MAMASA, MASALEMBO.COM - Kampanye 16 hari anti kekerasan perempuan, puluhan perempuan dari beberapa komunitas di Mamasa, Sulawesi Barat turun ke jalan. Mereka menyerukan penolakan segala tindakan kekerasan maupun diskriminatif terhadap kaum  perempuan dan anak. 

Kampanye yang dipusatkan di Simpang Lima kota Mamasa, diinisiasi Pengurus Sinode Persekutuan Perempuan Gereja Toraja Mamasa (PPr-GTM), Persekutuan Pemuda Gereja Toraja Mamasa (PP-GTM), Pengurus Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesa (P3BTI). Mereka melibatkan beberapa komunitas mahasisiswa dan perempuan.

Dalam aksinya mereka menggelar mimbar bebas. Semua peserta aksi secara bergantian menyampaikan aspirasinya yang semuanya kompak menyerukan menolak setiap tindakan kekerasan terdap perempuan dan anak. Selain itu, mereka juga  menyuarakan penolakan terhadap penggunaan obat-obat terlarang seperti narkotika dan obat terlarang terlarang lainya di Kabupaten Mamasa.

Massa aksi juga menggalang sejumlah tanda tangan dikain putih sepanjang 3 meter sebagai dukungan moril warga Mamasa menolak segala tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan bentuk pelanggaran HAM yang sama sekali tidak bisa ditolelir, sehingga harus segera dihentikan dan dan dilawan secara bersama-sama oleh kaum perempuan,” kata Ketua PPr-GTM Yuliana Allo, Sabtu (7/12/2019).

Sementara, Ketua P3BTI Kabupaten Mamasa, Kory Pakondo mengatakan, data kepolisian angka tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Mamasa selama bulan November 2019 terjadi 3 kali. Menurutnya tidak menutup kemungkinan masih banyak kekerasan yang dialami perempuan dan anak yang belum dilaporkan. 

Dengan begitu pihaknya melakukan aksi turun jalan menyerukan menolak tindakan diskriminatif dan kekerasan terhadap anak dan perempuan. Selain itu pihaknya memeinta agar kaum perempuan yang mengalami tindak kekeresan bernai bersuara. (fre/har)

comments