https://rajaview.id/l1zfvR2Icz3Zr9hvg4vbpSO76Foy6i8uVNn6HXHq

Hot News

Jadi Klaster Terbesar Sulbar, Ini Alasan Pemkab Mateng Tak Ajukan PSBB

On Saturday, May 09, 2020

MASALEMBO.COM

Potret Mamuju Tengah. Tampak Tugu Benteng Kayu Mangiwang sebagai icon kabupaten pemekaran Mamuju ini. (Ist/Masalembo.com)


MATENG, MASALEMBO.COM - Meski Desa Pontanakayang, Kecamatan Budong Budong, Kabupaten Mamuju Tengah menjadi klaster terbesar penyebaran Covid-19 di Sulawesi Barat, namun Pemerintah Kabupaten Mateng menegaskan tak akan mengajukan permohonan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk percepatan penanggulangan Covid-19 di daerah ini.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Mamuju Tengah Rahmat Syam mengatakan, salah satu sebab Pemkab Mateng tak mengajukan PSBB ke Pemerintah Pusat adalah belum terpenuhinya beberapa kriteria daerah untuk memberlakukan semi lock down alias PSBB tersebut. Beberapa kriteria itu diantaranya jumlah dan kasus kematian serta adanya epidemiologi di tempat lain yang berkoneksi dengan daerah yang akan ajukan PSBB.

"Meskipun ada kasus di Tobadak tapi itu masih keluarga yang di Pontanakayang, dan kita sudah mengisolasi semua," ujar Rahmat Syam.

Selain itu, kata Rahmat, kriteria lain pengajuan PSBB adanya transmisi lokal penyebaran Covid-19 serta hasil tracing penyidikan yang menyatakan ada penularan dari generasi kedua dan ketiga. Justru, menurut Kepala BPBD Mamuju Tengah ini trend penyebaran virus Corona di daerahnya semakin menurun.

"Hasil tracing pertama ada 16, kedua ada 10, selanjutnya yang baru-baru ini tinggal dua, artinya trendnya menurun kan," ujar Rahmat, Jumat (8/5/2020) malam.

"Nah kenapa Mateng ini buming karena itu, Pontanakayang itu, tapi sebenarnya trendnya semakin menurun, hasil tracing juga, itu yang kena hanya satu keluarga," sambungnya.

Rahmat Syam menjelaskan, meski jumlah kausus positif di Mateng cukup signifikan, namun ia memastikan semua orang yang dinyatakan terpapar masih satu keluarga dengan pasien 03 sebagai kurir yang membawa virus Corona ke Pontanakayang.

Bicara melalui sambungan aplikasi WhatsApp, Rahmat Syam juga mengungkap, saat ini 22 warga Pontanakayang Mamuju Tengah yang menjalani isolasi mandiri di Puskesmas Salugatta karena dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil swab, terus memperlihatkan perkembangan yang lebih baik. Bahkan, hasil swab terakhir mereka sudah negatif. "Jadi tinggal kita menunggu satu kali, kalau swab negatif kita nyatakan sembuh," ujar Rahmat.

Masih terkait PSBB, sebelumnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mengatakan masih mempertimbangkan memilih opsi PSBB untuk memutus mata rantai Covid-19 di Provinsi Malaqbi ini. Direktur RS Regional Sulbar dr Indahwati Nursyamsi menilai, untuk kondisi saat ini upaya yang harus dilakukan hanya perlu pengawasan ketat di lokal wilayah saja, atau daerah yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 seperti Mamuju Tengah. Dirinya beranggapan, jangan sampai ketika kebijakan PSBB berlangsung pemerintah justru terkendala pada beban pembiayaan yang nantinya akan banyak dikeluarkan.

"Kebijakan PSBB sebagai langkah terakhir, untuk saat ini kita lokal wilayah saja, yang wilayahnya atau klusternya memiliki kasus terbanyak, seperti di Mamuju Tengah. Jadi kalau untuk sekarang kita hanya perlu berupaya memperketat lagi pengawasan dan semacamnya, jangan hanya himbauan saja, namun kita betul-betul ada action di lapangan, sinergi antara provinsi dan seluruh kabupaten," unjar Indah saat rapat virtual Tim Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Sulbar dengan bupati se-Sulawesi Barat, Senin, 4 Mei lalu.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Muhammad Idris DP juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, untuk penerapan PSBB di wilayah Sulbar masih memerlukan analisis pertimbangan yang lebih matang lagi. "Artinya lebih matang, kita harus melihat dulu seperti apa analisis kemungkinan dampak yang akan terjadi jika PSBB tersebut diterapkan bersama," ucap mantan Kepala LAN Makassar itu.

Menurut Idris, yang harus dilakukan saat ini adalah meningkatkan pengawasan di perbatasan dan itu perlu ada kerja sama antara provinsi tetangga, untuk selanjutnya akan menjadi pertimbangan Gubernur melakukan MoU. "Kerjasama akan menjadi pertimbangan untuk melakukan MoU pengawasan perbatasan, antara Sulbar-Sulsel, serta Sulbar- Sulteng," ujarnya.

Sekedar untuk diketahui, hingga saat ini sebanyak 34 kasus positif Covid-19 di Sulbar tercacat asal Kabupaten Mamuju Tengah. Dari 34 itu, 1 orang sudah dinyatakan sembuh, 8 orang masih dirawat di RS Regional Sulbar di Mamuju, 2 orang dirawat di RS Mamuju Tengah di Topoyo, 22 orang dirawat dikarantina PKM Salugatta Mateng, dan 1 meninggal dunia yakni pasien 03. (*)


Laporan: Tim Masalembo.com
Editor: Harmegi Amin


comments