-->

Tahun Ini RSUD Buteng Buka Pelayanan Tuberkulosis Resistensi Obat

On Senin, Juli 18, 2022

MASALEMBO.COM


Direktur Umum RSUD Buton Tengah, dr. Karyadi (ketujuh dari kiri) bersama Penanggungjawab Program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, Desi (kesembilan dari kiri) dan Dokter Spesialis Paru, dr. Wiwi (kedelapan dari kiri)

BUTON TENGAH, MASALEMBO.COM - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buton Tengah bakal membuka pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO).

Direktur Utama RSUD Buteng, dr. Karyadi mengatakan pembukaan pelayanan bagi penderita penyakit dengan gejala utama batuk berdahak selama dua minggu ini bakal dilakukan menjelang berakhirnya tahun ini.

Demi menunjang pembukaan pelayanan kesehatan untuk Tuberkulosis Resistensi Obat ini, pihaknya telah berusaha dan mengaku telah memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan seperti tersedianya ruangan untuk pasien, ruang laboratorium, hingga ruang farmasi.

Disamping itu, dr. Karyadi juga mengaku jika saat ini RSUD Buton Tengah telah memiliki dokter spesialis untuk menangani penderita Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO) yang nantinya bertugas untuk melayani para penderita penyakit TB RO.

"Secara umum RSUD Buton Tengah sudah memenuhi persyaratan untuk pembukaan pelayanan kesehatan bagi penderita TB RO. Sementara untuk SDM-nya kami sudah memiliki dokter spesialis dan dokter umum yang ternyata berdasarkan bincang-bincang dengan penanggungjawab program dari Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, itu bisa menangani para penderita TB RO," jelas dr. Karyadi pada media ini, Senin (18/07/2022).

Pembukaan Pelayanan TB RO Telah Memenuhi Syarat

Di tempat yang sama, Penanggungjawab Program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, Desi mengatakan keberadaan RSUD Buton Tengah saat ini dinggap layak untuk membuka pelayanan bagi penderita TB RO di Buton Tengah. Hal itu didukung dengan terpenuhinya seluruh persyaratan yang dibutuhkan.

Setelah melakukan pemantauan dan pengecekan beberapa ruangan yang bakal digunakan sebagai penanganan pasien maupun ruangan lainnya, Desi merasa optimis RSUD Buteng dapat membuka pelayanan untuk penyakit Tuberkulosis Resistensi Obat.


Pengecekan ruang farmasi RSUD Buton Tengah oleh penanggungjawab Program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sultra beserta tim

"Asal ada komitmen dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Tengah dengan rumah sakit kuat untuk menangani penanganan TBC. Kita (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara) sih oke aja. Kita siap membantu untuk logistik asal ada permintaan logistik dari kabupaten," jelas Desi usai melakukan pengecekan ruangan.

Bakal Jadi Rumah Sakit ke Empat untuk Pelayanan Pasien TB RO di Sultra

Dengan terpenuhinya seluruh persyaratan yang dibutuhkan, Desi berharap pelayanan pasien penderita Tuberkulosis Resistensi Obat di Rumah Sakit Umum Daerah Buton Tengah dapat segera dibuka untuk umum.

Selain itu, RSUD Buton Tengah nantinya dapat menjadi rumah sakit rujukan rumah sakit lain bagi pasien TB RO sebab saat ini kata Desi saat ini di Sulawesi Tenggara baru ada tiga rumah sakit yang melayani pasien TB RO yakni Rumah Sakit Bahteramas, Rumah Sakit Umum Bau-bau dan Rumah Sakit Umum Kabupaten Konawe.

Penderita TBC RO di Buteng Cukup Tinggi

Sementara itu, Dokter Spesialis Paru, dr. Wiwi mengaku berdasarkan catatan rekam medisnya, jumlah penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) maupun Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO) di Kabupaten  Buton Tengah masih cukup tinggi.

dr. Wiwi menjelaskan penderita Tuberkulosis (TBC) berbeda dengan penderita Tuberkulosis Resistensi Obat (TB RO). Salah satu perbedaannya adalah penderita TBC hanya mengonsumsi obat selama enam bulan sementara penderita TB RO minimal mengonsumsi obat selama 11 bulan hingga 24 bulan atau dua tahun.

dr. Wiwi juga meluruskan stigma di masyarakat secara umum yang mana penderita TBC tidak mesti dijauhi ataupun dihindari meskipun penyakit TBC adalah salah satu jenis penyakit menular.


Dokter Spesialis Paru, dr. Wiwi

"Orang terkena TBC itu rentan dijauhi. tidak dipakai gelasnya, tidak dipakai piringnya. padahal tidak seperti itu. TBC ini penularannya melalui batuk, droplet, bersin, menyanyi dan berbicara. Droplet ini adalah cairan atau cipratan liur yang dikeluarkan seseorang dari hidung atau mulut saat bersin, batuk, bahkan berbicara," jelas dr. Wiwi.

Untuk itu, dr. Wiwi mendorong pihak-pihak terkait agar pembentukan pelayanan pasien TB RO di Buton Tengah dapat segera diwujudkan sebab kata dia, terbentuknya pelayanan TB RO di RSUD Buton Tengah juga dapat menambah semangat penderita TBC di Buton Tengah untuk berobat.

Sebab, sambung dr. Wiwi semangat penderita TBC dan TB RO di Buton Tengah berkurang karena jarak yang harus ditempuh relatif jauh. Disamping itu hadirnya pelayanan TB RO di RSUD Buton Tengah nantinya juga dapat mengurangi pengeluaran biaya yang selama ini para penderita berobat ke Kota Baubau ataupun wilayah lainnya. (Adv)


comments