-->

Hot News

Tanggap Bencana, Kapolda Sulbar: Tak Perlu Tunggu Perintah
Sabtu, Oktober 22, 2022

By On Sabtu, Oktober 22, 2022

Irjen Pol Verdianto Iskandar Bitticaca [ist/masalembo.com]



MAMUJU, MASALALEMBO.COM - Menyikapi kondisi alam akhir-akhir ini, dimana curah hujan cukup tinggi dan seringkali menyebabkan terjadinya banjir maupun tanah longsor, Kapolda Sulbar Irjen Pol Verdianto Iskandar Bitticaca menginstruksikan seluruh jajarannya lebih peka dan tanggap bencana.

Jika ada bencana kata Kapolda, tak perlu tunggu perintah langsung turun ke lapangan bantu masyarakat sebagai bentuk pelayanan prima.

"Masyarakat itu tidak mau tahu apa saja yang menjadi kendala kita saat lambat turun memberikan bantuan sosial jika terjadi bencana alam. Sehingga hal ini perlu kita antisipasi betul untuk siaga memberikan bantuan kapan dan dimana saja masyarakat membutuhkan kehadiran Polisi," ujar Kapolda.

Dikatkan, agar persiapan kedepan lebih baik dalam membantu penanganan bencana, tentu harus ada perencanaan yang matang. "Rancang dari sekarang apa yang manjadi kebutuhan kita saat terjadi bencana," lanjutnya.

Kopolda Verdianto mengatakan, para palingma perang Polda di lapangan dalam hal ini para pejabat utama, Kapolres dan seterusnya, harus lebih proaktif dan tidak perlu menunggu perintah karena semua yang berhubungan dengan keamanan, ketertiban dan keselamatan masyarakat adalah tugas Polri.

Intensitas hujan lanjut Kapolda, juga masih tinggi jadi perlu antisipasi dari sekarang segala kemungkinan yang terjadi dan terpenting tindakan sigap itu lebih baik dari hanya banyak bicara saja.

"Tanggap bencana tak perlu tunggu perintah, karena semua yang berhubungan dengan kemaslahatan masyarakat adalah bagian dari tugas kita," pungkas jenderal bintang dua itu. (Sug/Red)

Longsor di Sendana Mulai Terbuka, Kendaraan Bergiliran Melintas
Selasa, Oktober 11, 2022

By On Selasa, Oktober 11, 2022


MAJENE, MASALEMBO.COM - Longsor di Desa Lalatedzong, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat sudah mulai terbuka. Saat ini arus kendaraan mulai bergerak namun diharapkan untuk terus berhati-hati.

Kepala BPBD Majene Ilhamsyah mengatakan, petugas masih menggilir kendaraan baik roda dua maupun roda empat untuk melintas dari dua arah berlawanan.

"Iye sudah terbuka, tapi gantian dari bawah (Mamuju) dan arah sini (Majene)," kata Ilhamsyah, Selasa malam.

Sementara, seorang warga, Suarman masih berada di lokasi longsor. Ia masih mengantri untuk dapat melintas di titik longsor tebing perbatasan dua desa itu.

Sebelumnya, pada siang sekitar pukul 13.20 Wita tadi longsor terjadi di Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Diduga karena hujan lebat yang mengguyur daerah ini sekitar 3 jam lebih menyebabkan tebing tak dapat menahan beban hingga longsor jatuh dan menutup seluruh badan jalan.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemda Majene dan Balai Jalan Jembatan Wilayah III Sulawesi menurunkan alat berat untuk membuka akses jalan yang terputus di jalur lintas pulau Sulawesi itu.

Arus kendaraan yang sebelumnya menumpuk dari dua arah berlawanan harus rela mengantri higga berjam-jam sampai akses jalan dapat dibuka kembali malam ini. (Hr)

Bertahun-Tahun Hidup di Gubuk Reot, Dahlia Kini Mulai Bernafas Lega
Sabtu, Agustus 27, 2022

By On Sabtu, Agustus 27, 2022

Gubuk reot milik Dahlia, warga Lingkungan Sese, Kelurahan Rangas, Kabupaten Mamuju. [Dion/Masalembo.com]



MAMUJU, MASALEMBO.COM - Dahlia (35), warga Lingkungan Sese Selatan, Kelurahan Rangas, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Ia hanya seorang janda yang selama ini tinggal di gubuk nan jauh dari kata layak huni. Dia hidup bersama seorang anaknya. 

Namun akhirnya, Dahlia dapat bernapas lega. Pasalnya gubuk yang ditinggalinya berukuran 3x2 meter kini sementara direhab oleh sejumlah lembaga peduli kemanusiaan. Secara bersama mereka menggalang dana, lalu mengubah gubuk Dahlia menjadi rumah lebih layak huni, ukurannya 6x4 meter.

Ketua Yayasan Komunitas Sahabat Madani Sulbar, Basri A Muin mengatakan bahwa pengerjaan 
pembangunan rumah Dahlia dimulai Jumat (26/8/2022) kemarin.

Menurutnya pembangunan rumah Dahlia yang pendanaannya bersumber dari sejumlah lembaga seperti Yayasan Komunitas Sahabat Madani Sulbar, Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulbar, Ikatan Wanita Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone Sulbar, LSM LIRA, LSM AMPERAK dan BAZNAS Provinsi Sulbar.

"Pembangunan rumah ibu Dahlia kolaborasi sejumlah lembaga yang secara sukarela membantu, baik dari segi materi maupun tenaga," ujarnya, Sabtu (27/8/2022).

Dia menambahkan pembangunan rumah Dahlia sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang tinggal di rumah jauh dari kata layak huni. 

Dimana dindingnya terbuat dari kayu dan pelepah sagu yang sudah lapuk dimakan usia, dan dilapisi baliho bekas untuk menghindari hujan dan panas matahari. Sementara atap rumahnya juga sudah mulai bocor sehingga air merembes saat hujan turun. 

Tidak ada perabot mewah di dalam rumahnya, hanya tirai yang membatasi ruangan dapur dengan tempat tidurnya. Sebagai alas tempat tidur, Dahlia menggunakan plastik. Dahlia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Basri A Muin menyebut, pihaknya melakukan rehab rumah tidak layak huni di Mamuju ini yang keempat kalinya.

"Alhamdulillah pembangunan rumah ibu Dahlia ini yang keempat kalinya kami lakukan, membedah rumah warga yang kondisinya jauh dari kata layak huni yang ada di Mamuju," terangnya.

Dahlia sendiri tak sanggup menahan air mata sebab rumah yang ditinggalinya itu bertahun-tahun tak mendapat bantuan bedah rumah dari pemerintah.

"Alhamdulillah saya sangat bersyukur sekali karena ada yang peduli dan membangunkan tempat tinggal saya," ujarnya. (Dion)