Dari NGO Perempuan ke Partai Politik, Ini Alasan Dian Memilih Gerindra

On Rabu, Juli 18, 2018

MASALEMBO.COM

Dian Daniati (Ist)


MAMUJU, MASALEMBO.COM - Namanya Dian Daniati. Ia kadang disapa Dian Kartini. Memang, perempuan kelahiran 15 Agustus 1987 ini cukup malang melintang dalam gerakan pendampingan isu-isu gender dan anak-anak di Mamuju, Provinsi Sulbar. Namun langkah Dian akhinya harus jatuh ke gelanggang politik. Kini dia resmi bergabung ke Partai Gerindra Provinsi Sulawesi Barat.

Lalu apa alasan aktivis Non Goverment Organization (NGO) ini memilih menjadi politisi dan bergabung di partai besutan Prabowo Subianto?

Berikut penjelasan Dian Daniati kepada wartawan masalembo.com, Selasa (17/7).

"Masuk politik sebenarnya alasannya klasik dan konvensional.Saya ingin menyumbangkan sesuatu dari segi ide dan gagasan. Untuk partai, untuk politik, dan untuk Indonesia lebih baik yang responsif terhadap perempuan dan anak," kata Dian usai mengikuti pendaftaran bakal calon legislatif (Bacaleg) di KPU Sulbar.

Dian menjelaskan, memilih partai Gerindra pertama karena ketua DPW-nya adalah perempuan (Hj.Ruskati Ali Baal, red). Selain itu Gerindra Sulbar memiliki visi untuk perempuan, anak dan kelompok marginal.

"Satu-satunya Parpol di Sulbar yang diketuai perempuan adalah Gerindra. Selain itu beliau  berkomitmen membangun Sulbar dengan visi membawa kesejahteraan tidak hanya untuk perempuan dan anak, kolompok minoritas dan marginal juga menjadi perhatian serius," ungkapnya.

Dian mencontohkan, dari segi proses rekrutmen di Partai Gerindra, sudah memperhatikan perempuan secara kuantitatif dan juga kualitatif, "termasuk di pemberian no urut," katanya. 

Dikatakan, sebelum bergabung dengan Parpol, dirinya memang banyak berusaha menyumbangkan karya untuk perempuan di Sulawesi Barat akan tetapi partai politik tak bisa dinafikan sebagai ujung tombak dalam demokrasi yang terbuka.

"Menurut saya partai politik adalah alat yang menarik untuk digunakan, terutama bagi orang-orang yang mempunyai gagasan intelektual, ini yang membuat saya harus terjun ke politik," sambungnya.

Berbicara kepada wartawan masalembo.com usai mendaftar ke KPU Sulbar, Selasa sore, Dian mengatakan, kaum intelektual adalah orang yang bekerja dengan ide inovasi dan kreatifitas tinggi, namun pada titik tertentu dari ide dan gagasan itu akan muncul pertanyaan gagasan dan idenya itu mau diapakan kalau tidak ada alat yang bisa mewujudkannya. "Maka mau tidak mau pendekatannya adalah kekuatan atau kekuasaan. Power makes the ideas possible,
bergerak di luar arena politik praktis gerakan kita hanyalah pressure, advokasi, dan memengaruhi opini publik," katanya. 

Baca juga: Daftar ke KPU, Gerindra Target Rebut Kursi Ketua DPRD Sulbar

Dikatakan, ketika ingin masuk ke ranah eksekusi kebijakan, budgeting dan regulating, maka mau tak mau kita harus masuk politik praktis.

"Saya menyadari bahwa masuk partai politik itu seperti masuk hutan yang penuh dengan konstalasi kepentingan, kekuasaan, dan segala macam yang jauh dari dunia saya.Tidak mudah wajah  politik hari ini menjadi semacam arena perjudian, menggunakan uang, kekuasaan, intimidasi dan hal-hal lain yang menurut saya jauh dari subtansi berdemokrasi. Kalau orang-orang yang kompeten, anak-anak muda dari usia 25 sampai 30 tahun paling tua 40 tahun, masuk politik dan mereka datang dari berbagai latar belakang tentunya politik bakal menjadi sesuatu yang mengasyikkan," pungkasnya.

Akhirnya Dian mengaku harus berterima kasih kepada tokoh-tokoh Sulbar yang telah mensupport dirinya, para keluarga dan sahabat-sahabatnya yang memberi ruang terbuka untuknya.

"Saya tidak bisa sebutkan satu-persatu yang telah memberikan semangat dan nasehat politiknya, memperkuat niat saya berjuang mewakafkan diri berbuat lebih  banyak di legislatif. Semoga ini dapat menjadi jawaban dari berbagai telelpon, watshap, dan masengger di FB saya terkait alasan saya masuk ke politik dan memilih Gerindra," ucapnya.

Kepada wartawan Dian berharap, banyaknya permasalahan perempuan dan anak yang belum tuntas dan sangat memprihatinkan, angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk, penyalah gunaan psikotropika anak, pernikahan usia dini dan kemiskinan dapat ditekan dengan komitmen kuat pengambil kebijakan. 

"Inilah yang memanggil hati nurani dan menambah semangat saya berjuang mendapatkan satu kursi," kata Bacaleg DPRD Mamuju Dapil 2, Tapalang, Simboro dan Balabalakang ini. (har/red)

comments