-->

Mengingatkan : Teluk Mandar Pernah Diterjang Tsunami

On Thursday, February 04, 2021

MASALEMBO.COM


Ilustrasi

Mengingatkan Pemerintah dan warga di wilayah pesisir Teluk Mandar bahwa wilayah pesisir Teluk Mandar pernah diterjang "lembong tallu"

Sejarah mencatat, dan kemungkinan beberapa orang saksi masih ada yang hidup, bahwa wilayah pesisir Teluk Mandar pernah diterjang “lembong tallu” yang sekarang disebut “tsunami”. Tsunami tersebut menyusul gempabumi tektonik yang berpusat di perairan Teluk Mandar pada 11Apr1967 pukul 13.09.11 Wita (05.09.11 UTC), lihat Gambar-1. 

Tabel 1

Pusat atau epic. gempa: 119,3 BT dan 3,7 LS. Kedalaman 51 km. Mmagnitudo M = 4,9. Gempa tersebut dipicu oleh aktivtas Sesar Paternoster yang melintang di perairan Teluk Mandar dengan arah BBL – TTG atau “baratbaratlaut – tenggaramenenggara”. 

Korban manusia di wilayah terdampak, Tinambung-Campalagiang Kab. Polman Sulbar, adalah 58 orang tewas, 100 orang luka-luka dan 13 orang hilang. Juga terjadi kerusakan kampung-kampung di wilayah terdampak. Magnitudo gempa relatif kecil, jadi dampak tersebut lebih disebabkan oleh terjangan tsunami. 

Gempa dan tsunami tersebut terjadi pada tengah hari, yakni waktu yang umumnya orang masih dalam keadaan “terjaga”. Tetapi, korban manusia yang timbul cukup besar. Ini menunjukkan bahwa warga di wilayah terdampak, meski dalam keadaan terjaga tetapi “tidak siap” menghadapi terjangan tsunami tersebut. Atau, siap tapi “tidak cukup waktu” untuk menyelamatkan diri karena sumber tsunami dekat dengan dengan pantai, di sekitar permukiman mereka.

Tabel 2

Perhatikan Gambar-2 dan Gambar-3:

Titik 1: jika pusat tsunami di pusat gempa:
Jarak antara titik 1 dengan pantai Tinambung-Campalagiang sekitar 30 km = 30.000 m. Berdasarkan garis grafis di Gambar-2, bisa diperkirakan kedalaman laut rata-ratanya [(1.200 m + 0)/2] m = 600 m. Dari rumus di Gambar-3, didapatkan kecepatan gelombang tsunami dari titik 1 ke pantai Tinambung-Campalagiang = 76,60 m/detik. 

Waktu yang dibutuhkan gelombang tsunami dari titik 1 ke pantai = 30.000 (m) / 76,60 (m/detik) = 391,64 detik = 6,53 menit. Dalam waktu ini, orang yang berlari-lari kecil akan menempuh jarak = 391,64 (detik) x 2,22 (m/detik) = 869,45 m. 

Waktu 6,53 menit tersebut merupakan selisih waktu antara terjadinya gempa dengan tibanya tsunami di pantai Tinambung-Campalagiang. Waktu 6,53 menit tersebut “cukup” untuk menjauh dari pantai sejauh 869,45 m, yang merupakan jarak aman dari jangkauan tsunami.

Titik 2: jika pusat tsunami di lereng terjal dekat pantai: 

Jarak antara titik 2 dengan pantai Tinambung-Campalagiang sekitar 3 km atau 3.000 m. Berdasarkan garis grafis di Gambar-2, bisa diperkirakan kedalaman rata-ratanya [(400 + 0)/2] m = 200 m. Dari rumus di Gambar-3, didapatkan kecepatan gelombang tsunami dari titik 2 ke pantai Tinambung-Campalagiang = 44,23 m/detik. 

Waktu yang dibutuhkan gelombang tsunami dari titik 2 ke pantai = 3.000 (m) / 44,23 (m/detik) = 67,83 detik = 1,13 menit. Dalam waktu ini, orang yang berlari-lari kecil akan menempuh jarak = 67,83 (detik) x 2,22 (m/detik) = 150,58 m. 

Waktu 1,13 menit tersebut merupakan selisih waktu antara terjadinya gempa dengan tibanya tsunami di pantai Tinambung-Campalagiang. Waktu 1,13 menit tersebut “sangat tidak cukup” untuk bisa menjauh dari pantai, ke batas lokasi yang aman dari jangkauan tsunami. Karena, kalaupun warga dalam keadaan terjaga dan langsung berlari menjauh dari pantai keika terjadi gempa, dalam waktu 1,13 menit mereka hanya bisa menjauh sekitar 150,58 m. Jarak 150,58 m ini , yang merupakan jarak “tidak aman” dari jangkauan tsunami, terutama untuk wilayah pesisir yang datar-landai.


Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa sumber atau pusat tsunami Tinambung-Campalagiang tersebut berada di titik 2, yakni di lereng terjal dasar laut dekat pantai. Pusat tsunami bukan di titik 1 atau di pusat gempa.   

Jadi, pusat tsunami tersebut sangat dekat dengan pantai. Hal inilah yang menyebabkan jatuhnya korban tewas 58 orang, luka-luka 100 orang dan hilang 13 orang ketika tsunami menerjang wilayah pesisir Tinambung-Campalagiang pada 11 Apr 1967 pukul 13.09.11 Wita, di waktu tengah hari. 

Apakah masih ada ancaman tsunami di Teluk Mandar?

Lebih dari 10 pusat tsunami di Teluk Palu dan Pantai Barat Kab. Donggala pada 28Sep2018, sebagian adalah longsor tebing terjal di dasar laut. Sebagiannya lagi adalah longsor di ujung muara sungai. 

Perhatikan Gambar-1 dan Gambar-2. Lokasi-lokasi rawan longsor di dasar laut pembangkit tsunami di wilayah pesisir Teluk Mandar, jika terjadi gempa besar, selain di lereng-lereng terjal di dasar laut, seperti yang terjadi pada 11Apr1967, juga di “ujung” muara Sungai Mandar di Tinambung, muara Sungai Mapilli (kecil dan besar) di Buku, muara Sungai Buttu Dakka di Mampie, muara Sungai Anreapi di Manding, muara Sungai Binuang di Bajoe, muara Sungai Paku di Paku dan Pajalele, muara Sungai Tuppu+Rajang di Maroneng, muara Sungai Saddang di Paria dan Babanna Binanga (Sumpang Saddang). 

Sungai-sungai yang profil memanjangnya landai, bisa menjadi jalan tol tsunami. Gelombang tsunami bisa menjalar jauh ke arah darat, dengan tanpa hambatan, melalui alur sungai tersebut. 

Tebing-tebing terjal, di Pulau Battoa, Pulau Tangnga dan Pulau Karamasang, yang berbatasan langsung dengan laut, jika terjadi gempa besar, juga bisa longsor dan kemudian membangkitkan tsunami. Ketiga pulau in terletak di sebelah baratdaya Kota Polewali Kab. Polman. 

Titik 3: jika pusat tsunami di lereng terjal di lepas pantai Polewali: 

Jarak antara titik 3 dengan pantai Polewali sekitar 10 km atau 10.000 m. Berdasarkan garis grafis di Gambar-2, bisa diperkirakan kedalaman rata-ratanya sekitar 150 m. Dari rumus di Gambar-3, didapatkan kecepatan gelombang tsunami dari titik 3 ke pantai Polewali: 38,3 m/detik. 

Waktu yang dibutuhkan gelombang tsunami dari titik 2 ke pantai Polewali = 10.000 (m) / 38,3 (m/detik) = 261,1 detik = 4,352 menit. Dalam waktu ini, orang yang berlari-lari kecil akan menempuh jarak = 4,352 detik x 2,22 (m/detik) = 966,1 m. 

Waktu 4,296 menit tersebut merupakan selisih waktu antara terjadinya gempa dengan tibanya tsunami di pantai Polewali. Waktu 4,352 menit tersebut terbilang “cukup” untuk menjauh dari pantai ke lokasi yang aman dari jangkauan tsunami, sejauh 966,1 m.  

Batas dan lokasi aman tsunami di Polewali

Batas aman tsunami di Polewali adalah sepanjang jalur Jl. Andi Depu – Jl. Ahmad Yani, kecuali di sekitar jembatan Sarampu karena posisinya relatif dekat dengan pantai. Bila terjadi gempa yang dirasa besar, warga yang bermukim di kedua sisi jalur jalan tersebut dan yang bermukim di sebelah utaranya, tidak perlu mengungsi. Mereka cukup ke halaman rumah masing-masing, tapi relatif jauh dari dinding rumah/gedung, pohon besar, tiang listrik dan tidak berada di bawah kabel jaringan listrik. 

Adapun warga yang bermukim antara pantai dengan sekitar jalur Jl. Andi Depu – Jl. Ahmad Yani, harus segera menjauh dari pantai melalui jalan atau lorong-lorong yang tegak lurus dengan garis pantai, menuju ke lokasi titik kumpul. Beberapa lokasi titik kumpul yang aman dari jangkauan tsunami adalah halaman Mesjid Syuhada, Lapangan Pancasila, halaman SMAN1, halaman kantor DPRD Polman, halaman Mesjid Baiturrahim Lantora, halaman SMPN1, halaman Mesjid Jami’ Tanro, halaman SDN1, halaman terminal lama, dan lain-lain. 

Bagi warga Pulau Battoa, Pulau Tangnga dan Pulau Karamasang, begitu terjadi gempa yang dirasa besar, segera berlari ke lereng bukit. Lokasi yang aman tsunami, di masing-masing pulau tersebut, adalah semua lereng bukit yang tingginya minimal 10 m dpl (di atas permukaan laut). 

Titik 4: jika pusat tsunami di lereng terjal di lepas pantai Pajalele: 

Sama dengan titik 3. Waktu 4,296 menit tersebut merupakan selisih waktu antara terjadinya gempa dengan tibanya tsunami di pantai Pajalele. Waktu 4,352 menit tersebut terbilang “cukup” untuk menjauh dari pantai ke lokasi yang aman dari jangkauan tsunami, sejauh 966,1 m.  

Batas dan lokasi aman tsunami di Pajalale

Profil memanjang Sungai Paku atau Sungai Binanga Karaeng adalah sangat landai Gelombang tsunami bisa menjalar jauh ke arah daratan melalui sungai ini. Karenanya, warga Kampung Dusung yang jarak rumahnya kurang dari 200 m dari alur Sungai Paku, harus segera menjauh dari sungai tersebut menuju ke lokasi titik kumpul jika terjadi gempa yang dirasa besar, 

Batas aman tsunami di Pajalale adalah Mesjid Hidayatullah dan lokasi lain yang sama jaraknya antara pantai dengan mesjid. Jika terjadi gempa yang dirasa besar, warga yang bermukim antara pantai dengan mesjid tersebut harus bergegas menjauh dari pantai melalui jalan atau jalan setapak yang tegak lurus dengan garis pantai, menuju ke lokasi titik kumpul. Beberapa lokasi titik kumpul yang aman dari tsunami, baik dari arah pantai maupun sungai adalah Pasar Pajalele, lapangan bola, halaman Souraja, dan lain-lain. 

Adapun warga yang bermukim di bagian sebelah timur batas aman tersebut, kecuali yang jarak rumahnya < 200 m dari alur Sungai Paku, cukup ke halaman rumahnya masing-masing yang relatif jauh dari dinding rumah, pohon besar dan tiang listrik. Dan, tidak berada di bawah kabel jaringan listrik.

Bagi warga Polewali serta Pajalele dan sekitarnya, begitu terjadi gempa yang “dirasa” besar,  harus segera menjauh dari pantai agar dalam waktu 4,352 menit sudah berada pada jarak 966,1 m dari pantai, yang terbilang jarak aman dari jangkauan tsunami. 

Jangan menunggu berita dari TV atau media lainnya baru bergerak menjauh dari pantai. Sistem di BMKG, jika terjadi gempa, nanti di menit ke-5 baru diberitakan apakah gempa tersebut berpotensi terjadi tsunami atau tidak. Karena, jika terjadi tsunami, gelombang tsunami sudah sampai di pantai Polewali atau pantai Pajalele 4,352 menit setelah gempa sementara pengumumannya nanti pada menit ke-5 setelah gempa.

Pengamat Kebencanaan Sulteng, Abdullah

comments