DKP Polman Bantah Bantuan Kapal Tak Sesuai Prosedur

On Kamis, Juni 13, 2019

MASALEMBO.COM

Untung Pristiwanto, Kabid Pengolahan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP Polman. (Asrianto/Masalembo.com)

POLEWALI, MASALEMBO.COM - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar,  membantah jika bantuan kapal nelayan tidak berkualitas dan tidak sudah sesuai dengan prosedur.

Hal tersebut dibantah oleh Untung Pristiwanto, Kabid Pengolahan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP Polman saat ditemui di kantornya Tempat Pelelangan Ikan )TPI) Kalawa, Kamis (13/6/2019). Ia mengakui bantuan kapal nelayan tersebut memang dianggarkan melalui dana alokasi khusus (DAK) tahun 2017. 

Proyek bantuan kapal ini telah dipihak ketigakan oleh salah satu CV dari Mamuju. Ada sebanyak 11 unit kapal sejenis yang telah diserahkan kepada nelayan, dengan nilai estimasi anggaran sebesar Rp 100 juta per kapal, yang sudah include dengan alat tangkap jaring, mesin genset generator, GPS dan peralatan lainnya.

Kapal ini dibuat di Majene dan menggunakan kayu kelas nomor dua sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). 

"Karena kalau kayu nomor satu dananya tidak mampu. Memang dalam RAB kayunya kelas dua," ujarnya.

Kapal bantuan ini tersebar di beberapa desa, kelurahan, kecamatan. Diantaranya di Kecamatan Balanipa, Karama, Tangnga-Tangnga, Takatidung, Kenje, Lantora, Binuang, Mirring, Paku, beberapa daerah lainnya.

"Bantuan ini diberikan secara per kelompok, namun kadang nelayan mau memiliki secara sendiri-sendiri. Semua sudah diselesaikan sebelum diserahkan kepada kelompok penerima," katanya.

Baca juga: Ini Kapal Bantuan Dinas Kelautan Polman yang Disoroti Nelayan

Untung melanjutkan, harusnya kapal kayu tersebut kalau mau dioperasikan harus dicek terlebih dahulu oleh nelayan penerima. Setelah diterima, nelayan lalu memelihara dan merawat baik-baik. 

"Namanya kapal kayu, kalau tidak digunakan pasti dimakan rayap. Padahal kalau tidak cocok, jangan diterima. Cukup kita bantu dengan kapal, masa dinas semua yang harus membiayai bahan bakar biaya perawatan dan lainnya," jelasnya.

Sebelumnya, bantuan kapal nelayan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Polewali Mandar, disoroti warga. Pasalnya, sejak diberikan, kapal ini tidak pernah digunakan oleh nelayan untuk mencari ikan.

Salah satu penerima bantuan Edi warga dusun Kapejang Pulau Battoa, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, mengaku kapal tersebut hanya terparkir di daratan.

"Bagaimana mau dipakai pak, kualitas kayu tidak bagus, sudah dimakan rayap. Kalau bisa yang berkualitas supaya kami puas, jangan asal-asalan," ketusnya.

Ia mengaku tidak mengetahui mengenai berapa nilai anggaran dan kualitas kayu kapal itu karena nelayan hanya tinggal menerima bantuan tersebut. Kapal ini sebelumnya dibuat dan diambil di Kabupaten Majene.

"Ini kapal bukan kami yang tahu pembuatannya. Karena sudah jadi baru kami ambil di Majene," akunya.

Kapal ini memiliki panjang sekitar 15 meter dan lebar 2 meter. Diketahui kapal ini merupakan bantuan dari DKP Polman menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2017.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Polman Basir Halim yang dikonfirmasi, Selasa (11/6/2019) mengaku tidak mengetahui hal tersebut karena dirinya baru menjabat beberapa bulan lalu.

"Waktu pengadaan kapal ini, masih jamannya pak kadis yang lama," kata mantan Kepala Distanak ini.

Meski demikian ia menjelaskan, bahwa menurut konsultan kapal ini sudah layak makanya diserahkan kepada kelompok penerima.

"Cuma sampai di kelompok penerima, mereka juga harus rawat agar tetap terawat. Kapal yang lain juga bagus memang harus ada pemeliharaan dan perawatan," katanya.

Basir juga menghimbau kelompok nelayan agar melaporkan jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. (ant/har)

comments