-->

Buntut Insiden Bendera di Majene, 9 Orang Mahasiswa Diperiksa Polisi

On Rabu, Mei 25, 2022

MASALEMBO.COM

Tangkap layar video penurunan bendera di halaman kantor Bupati Majene, Senin 23 Mei 2022. [Ist/Masalembo.com]


MAJENE, MASALEMBO.COM - Insiden penurunan bendera merah putih saat aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Majene, Senin 23 Mei 2022 berbuntut panjang. Berdasar keterangan pihak Polres Majene, Selasa (24/5/2022) sebanyak sembilan mahasiswa massa aksi telah diperiksa.

Kapolres Majene AKBP Febryanto Siagian saat dikonfirmasi membenarkan, pihaknya melakukan pemeriksaan atau mengambil keterangan terhadap sembilan orang. Mereka, sembilan orang itu, diduga melakukan penghinaan terhadap lambang negara berdasarkan pasal 24 UU RI No 24 Tahun 2009.

Kapolres mengatakan penyidik masih terus melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan barang bukti guna menentukan status dari sembilan mahasiswa tersebut. "Perkembangan akan terus kami sampaikan," tutur Kapolres, Selasa pagi.

Awak masalembo.com yang terus memantau perkembangan kasus ini telah mendapat informasi, pihak kepolisian Polres Majene sudah menetapkan empat orang tersangka, namun secara resmi pihak polisi belum memberikan keterangan lebih lengkap.

"Yang tersangka 2 dari Pasangkayu dan 2 dari Mateng," kata sumber masalembo.com

Seperti diketahui pada Senin 23 Mei pagi menjelang siang puluhan mahasiswa dari Aliansi Organisasi Daerah (Organda) di Kabupaten Majene menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor bupati. Mereka melakukan protes atas pernyataan Ketua Dewan Pendidikan dan Kepala Satpol PP Majene yang menyebut organda mahasiswa di Majene kerap "meminta-minta" di lampu merah. Pernyataan yang dilontarkan oleh dua pejabat publik Majene ini dinilai merendahkan eksistensi mahasiswa dan aktifitas sosial yang kerap dilakukan sebagai fungsi moral force mahasiswa.

Kordinator Aliansi Organda di Majene, Fauzan, mengatakan, pernyataan dua pejabat publik Majene itu sangat berbahaya dalam penilaian masyarakat awam, karena menyinggung organisasi daerah di Kabupaten Majene yang katanya tidak melakukan kegiatan yang produktif serta tidak memiliki manfaat untuk masyarakat Majene pada khususnya.

“Mereka menyinggung bahwa gerakan kemanusiaan yang biasa dilakukan oleh teman-teman orgnisasi daerah yang ada di Majene adalah kegiatan meminta-minta sumbangan di jalan secara tidak jelas. Padahal kegiatan yang dilakukan teman-teman organda yang ada di Majene adalah kegiatan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat Majene,” pungkas Fauzan.

Pada aksi unjuk rasa Senin itu, mahasiswa menurunkan bendera merah putih dan mengibarkan kembali bersama tiga bendera organda dari Mamuju Tengah, Pasangkayu dan Kabupaten Enrekang. (Hr/Red)

comments